Peran Sufi pada Kekaisaran Ottoman (bagian 2)
Ulama sufi berperan besar dalam dakwah, budaya, dan kebijakan pada masa kejayaan Ottoman
Tokoh-tokoh tasawuf besar melakukan dakwahnya dengan cara yang mudah diterima oleh masyarakat. Sebut saja Jalaluddin Rumi. Melvlana, begitu jalaluddin Rumi biasa disebut oleh masyarakat Turki, berhasil membumikan nilai-nilai Islam melalui bait-bait syairnya yang terkumpul dalam kitab Mesnavi.
Melalui tangannya ajaran Islam menjadi begitu ringan, sederhana tetapi sangat menyentuh dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Tidak berlebihan kemudian banyak yang berkomentar jika karyanya Mesnavi menjadi rujukan penting masyarakat dalam beragama setelah al-Qur’an.
Selain Rumi, lanjut Munji, ada juga nama-nama seperti Şems-i Tebrizi, Ahi Evran dan Yunus Emre. Sejumlah nama darwis tersebut meninggalkan jejak mendalam dalam dunia emosi spiritual dan pemikiran bangsa Turki dengan caranya sendiri.
Peran para tokoh sufi berimplikasi pada ajaran tasawuf yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Turki yang tidak bisa dipisahkan. Nilai-nilai luhurnya terejawantahkan dalam praktek kehidupan sehari-hari seperti seni, musik, arsitektur dan sastra Ottoman.
Baca juga: Jejak Sufi di Yerusalem
“Refleksi perilaku spiritual masuk ke dalam bagian penting masyarakat seperti frasa, idiom, pribahasa, lagu pengantar tidur, lagu rakyat, humor dan lelucon,” ungkap Rais Syuriah PCINU Turki tersebut.
Ahmad Munji mencontohkan, di antara sufi yang nyentrik dan mashur dari masa ini adalah Naserudin Hoca. Seorang wali, sufi, pendakwah nilai-nilai Islam. Naserudin Hoca hadir melalui lelucon-lelucon yang akrab dengan realitas saat itu, cerita-cerita humor dihadirkan untuk mengingatkan kepada kebaikan, memperbaiki diri dalam berinteraksi dengan Tuhan, sesama manusia dan alam.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

