Meruntuhkan Berhala Kesombongan di Samudra Taubat
Taubat sejati bukan ritual, tapi nafas yang menghancurkan ego dan menyucikan hati
Ini adalah sebuah paradoks spiritual. Semakin tinggi derajat seseorang di hadapan Allah, justru ia akan merasa semakin kecil dan berlumur dosa. Mengapa? Karena bagi para kekasih Allah, dosa bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan hijab (penghalang) yang merintangi kemesraan mereka dengan Sang Khalik.
Taubat sebagai Nafas, Bukan Sekadar Ritual
Muhasabah yang perlu kita ajukan pada diri sendiri adalah: jika seorang wali tingkat tinggi masih merasa dosanya setinggi gunung Syam, lalu di mana posisi kita yang ibadahnya sering kali hanya gugur kewajiban?
Baca juga: Mengapa Dianjurkan Mandi Taubat dan Shalat Taubat?
Kita yang shalatnya masih sering disusupi pikiran duniawi, mengapa begitu jarang bertaubat? Mengapa kita begitu percaya diri dengan amal yang compang-camping?
Dalam perspektif tasawuf, taubat bukanlah tindakan sekali jadi bagi mereka yang baru berbuat maksiat besar. Taubat adalah “nafas” yang harus ditarik dan dihembuskan setiap saat. Rasulullah SAW sendiri beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari bukan karena beliau berdosa, melainkan untuk terus membersihkan cermin hati agar cahaya Ilahi terpantul sempurna.
Jalan TQN Suryalaya: Menghancurkan Karat Hati
Di sinilah pentingnya bimbingan Guru Mursyid, sebagaimana yang diajarkan dalam TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Syekh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra. telah mengajarkan kita sebuah metode pembersihan hati melalui Dzikir dan talqin sebagai pintu masuk, yang intinya adalah menanamkan dan menghujamkan kalimat Laa ilaha illallah ke dalam dasar hati.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

