Menghadapi COVID-19: Berani Mati atau Ceroboh?
Kiai Wahfi: Taat protokol COVID-19 bukan takut mati, tapi lindungi keluarga dan sesama
– Ayah/ibu, kakek/nenek, atau istri dan anak kita mengerang menahan sakit, menggelepar dalam sakaratul maut tanpa bantuan obat dan alat kesehatan; menahan sesak di dada karena kekurangan tabung oksigen dan ventilator; berteriak sakit dengan nafas tersengal-sengal, lalu mati dan jenazahnya dibungkus plastik (tidak dimandikan), tak ada orang berani datang melayat, lalu dikuburkan dengan dikerek turun ke lubang kubur tanpa diantar orang banyak?
– Selama istri kita sakit, siapa yang akan mengurus anak-anakmu di rumah, mengantar mereka ke sekolah?
– Siapa yang akan memasak, mencuci perabotan dapur, alat makan, mencuci pakaian dan menyetrikanya?
– Siapa yang harus mengurus ladang, atau toko/dagangan di pasar? Siapa yang harus mencari nafkah?
– Bagaimana biaya pulang-pergi dari rumah di kampung ke RS di kota? Itu pun kalau tertampung di RS?
– Kalau pasien harus diurus di rumah, siapa yang akan mengurusnya? Tetangga? Menjenguk pun mereka tak akan berani?
– Apalagi kalau semua itu terjadi di bulan Ramadhan (yang sebentar lagi akan tiba)?
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

