Mengenal Batik Betawi

Daerah-daerah perbatikan ketika itu, proses pembatikan dilakukan di rumah-rumah penduduk

Setiap tanggal 2 Oktober, bangsa Indonesia merayakan Hari Batik. Jika mendengar kata batik, pikiran kita akan tertuju pada Kota Solo dan Pekalongan. Memang, kedua kota ini dikenal sebagai kota batik, produsen utama batik di Indonesia.

Tapi tahukah kita, jika di Jakarta tempo dulu pernah diramaikan dengan tempat-tempat usaha pembuatan batik yang dimiliki oleh orang-orang Betawi? Dan, tahukah kita bahwa koperasi batik di Indonesia pertama kali berdiri di Jakarta, bukan di Solo atau Pekalongan?

Menurut Hj Emma Amalia Agus Bisrie, cucu dari guru Madjid Pekojan, mantan ketua umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), kolektor dan penulis buku batik nusantara, batik di Jakarta atau di Betawi sudah dikenal sejak dulu.

Daerah-daerah perbatikan di Betawi tempo dulu ada di Karet Tengsin, Palmerah, Kebon Kacang dan Bendungan Hilir. Ketika itu, proses pembatikan dilakukan di rumah-rumah penduduk.

Adapun hasil pembatikan, khususnya batik-batik tulis, menjadi barang dagangan atau dikomersilkan karena memang ketika itu batik-batik tersebut dibuat dengan ragam hias sesuai dengan kesenangan atau selera masyarakat Betawi. Warna batik Betawi memiliki kekhasan, yaitu didominasi warna yang cerah, seperti merah, kuning atau oranye. Hal ini dikarenakan pengaruh unsur-unsur kebudayaan Cina.

Baca juga: TQN Mesir Adakan Tasyakur Kemerdekaan, Dresscode Batik dan Sarungan

Masih menurut Hj Emma, sekitar tahun 1970, gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, bersama-sama masyarakat Betawi menentukan kain yang akan dipakai oleh None Jakarta, yaitu kain bermotif pucuk rebung atau tumpal yang diserasikan dengan kebaya panjang. Dipilihnya motif pucuk rebung karena memang motif inilah yang sudah lama ada dan dikenal oleh masyarakat Betawi. Kini, batik motif pucuk rebung telah identik dengan batik Betawi.

Seiring dengan perjalanan waktu, lambat laun para pengrajin batik Betawi hilang dari Jakarta karena alasan lingkungan dan sebagainya. Menurut Emma, seperti pembatik Eka Jaya di Karet Tengsin yang sudah tidak diperkenankan lagi melakukan usaha pembatikan di Jakarta karena alasan aspek lingkungan hidup sehingga pembatik ini harus pindah ke Kota Tangerang, Banten. Begitu pula batik Ibu Sud yang mengalami kemunduruan karena adanya keterbatasan dalam pengembangan batik, demikian pula batik Berdikari yang berada di Palmerah. Walhasil, warga Jakarta pun untuk beberapa lama tidak lagi melihat tempat pembatikan batik Betawi di Jakarta. Bahkan, batik Betawi pun tenggelam dengan popularitas batik Pekalongan, Solo, Yogya, dan menyusul Semarang.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
______
Rekomendasi