Mengasuh Generasi Native Digital, Ini Yang Perlu Diingat!

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Berbeda pandangan para ulama mengenai apa yang dimaksud dengan fitrah tersebut. Akan tetapi pendapat yang paling masyhur fitrah di sini adalah Islam. Nabi Saw bersabda;

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya lah yang menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Bukhari).

Berdasarkan hadis ini, anak adalah amanah bagi setiap orang tua. Kedua orang tua bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara fitrah anak. Anak mesti diasuh, dididik dan dibesarkan dengan baik dan benar agar tidak melenceng dari fitrahnya.

Baca juga: Abah Anom dan Kanak-kanak

Salah satu tantangan orang tua saat ini ialah mengasuh anak yang tumbuh di era digital. Mereka yang dikenal dengan generasi digital native. Ciri generasi ini adalah sangat akrab dengan teknologi digital dan hari-harinya diisi serba online.

Mengasuh generasi ini tentu perlu pendekatan khusus sesuai dengan karakteristiknya. Dikutip dari Keluarga Kita, ini dia 5 dasar yang perlu kita lakukan selama mengasuh anak-anak Digital Natives.

(A)greement (Kesepakatan)

Biasakan untuk membuat kesepakatan. Dengan adanya kesepakatan yang dibuat bareng sekeluarga, orangtua akan punya “alat” pencegahan yang efektif, sekaligus melatih komitmen anak.

Misalnya, sepakat untuk tidak main gadget setelah jam 10 malam. Dengan konsekuensi, kalau anak tetap main gadget, waktu pakai gadgetnya akan dikurangi.

Baca juga: Tanamkan Cinta Nabi pada Anak

(B)oundaries (Batasan)

Membuat batasan yang proporsional dengan anak juga penting dilakukan. Peran utama kita sebagai orangtua, tapi di saat yang sama bisa menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak untuk bercerita. Tahu batas dan peran seperti apa yang dibutuhkan untuk mengatasi konflik dengan anak dan konflik antar kakak adik.

(C)hoices (Pilihan)

Orang tua juga perlu membuka ruang untuk anak memilih. Dengan dipandu pertanyaan dari kita sebagai orangtua sebagai pengarah. Serta membuat kebiasaan mendengar yang mendidik.

(D)ifferentation (Perbedaan)

Perlu diingat kembali, kalau semua anak itu unik. Jadi, tiap anak perlu pendekatan dan respon yang berbeda. Jangan bandingkan anak satu dengan yang lain.

Contoh, ada anak yang lebih mudah bergaul dengan orang baru dan ada yang tidak. Ada yang sensitif dengan suara, dan ada yang tidak terganggu walaupun tetangga renovasi rumahnya seharian.

Baca juga: Hari Anak Nasional Masa Depan Bangsa di Tangan Anak-anak

(E)xpectation (Ekspektasi)

Menjaga ekspektasi kita pada anak, tidak ketinggian tapi juga tidak terlalu rendah. Ekspektasikan sesuai pada tahap perkembangan sesuai usia anak.

Seperti, anak usia dua tahun perlu sering distimulasi dari orang di sekitarnya. Makanya, jika menyajikan tontonan video tanpa mengajak anak ngobrol itu tidak cukup untuk melancarkan dia berbicara.

Dari semua tips di atas, yang perlu ditekankan ialah selalu mengaitkan segala sesuatu dengan Allah Swt. Misalnya, mulailah segala aktivitas anak dengan basmalah dan akhiri dengan alhamdulillah. Sehingga dalam jiwanya tertanam bahwa ia senantiasa dekat dengan-Nya.

Rekomendasi