Membangun Kultur Wirausaha Kaum Tarekat
Kaum tarekat diajak bangun kultur wirausaha sebagai jihad hadapi bonus demografi
“Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Agar Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi, ketersediaan sumber daya manusia usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan dan keterampilan,” seperti rilis yang dikeluarkan Bappenas pada 22 Mei 2020.
Bonus demografi harus bisa dimanfaatkan oleh anak negeri, tidak terkecuali kaum tarekat.
Menyikapi perkembangan yang terjadi di negeri ini, Kiai Wahfi mendorong para pengamal tarekat mulai membangun dan mengembangkan kultur wirausaha. Tentunya bisa dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Tidak mudah, namun inilah jihad kaum tarekat.
“Dunia memang berubah begitu cepat, ormas-ormas Islam, tak terkecuali berbagai komunitas tarekat banyak yang tergagap dengan perubahan-perubahan ini,” terang Kiai Wahfi.
“Setidaknya ada dua kemampuan yang dibutuhkan saat ini. Problem Solving dan Colaborative Actions,” sambungnya.
Dua kemampuan itu diyakininya dapat menjawab problematikan yang dihadapi umat saat ini. Pendidikan agama yang hanya terpaku pada pengajaran bersifat normatif tidaklah cukup. Segala macam norma agama, moral, adat dan hukum hanya terbatas pada apa yang seharusnya ada dan terjadi (what should be).
“Diperlukan yang lebih dari itu, yaitu keahlian mengadakan dan menjadikan. Itulah engineering atau keahlian rekayasa dan manajemen,” kata Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

