Melon Pangersa Yang Siap Panen Dengan Sistem Hidroponik
Endang menanam buah Melon dengan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique)
Endang juga menuturkan, bahwa di wilayah RT 07/10 Klender tempat Urban Farming ini dikenal dengan Kampung Sumur. Terdapat 500 KK yang 90 persennya profesinya adalah pemulung, dan 20 orang pemulung aktif menjadi anggota komunitas dan ikut sibuk berkebun melon hidroponik.
Baca juga: Kiai Wahfi Ajak Aktivis Tarekat Kaji dan Kembangkan Ekonomi Syariah
“Kita ingin menciptakan konsep membangun Kampung Sumur menjadi Kampung Hijau. Ini sekaligus untuk merubah image dari kampung kumuh, Kampung Pemulung menjadi kampung yang hijau dan positif,” paparnya.
“Jadi memang ibu-ibu yang biasa bekerja sebagai pemulung mereka setiap hari cek nutrisi, menjaga kebersihan, dan mengecek PH (derajat keasaman). Kami melibatkan masyarakat sebagai bagian daripada pemberdayaan,” ucap Ketua Yayasan Swara Peduli Indonesia ini.
Melon yang dinamainya sebagai melon Pangersa ini siap panen dalam 75 hari.
“Kita sebut Melon Pangersa karena kita awali pindah tanam dengan tawassulan, terus mau persiapan panen kita akhiri dengan tawassulan juga,” tandasnya.
Baca juga: Dua Unsur Utama Membangun Jamaah TQN Yang Solid
Melon yang dipanen dengan masing-masing berat per buahnya mencapai antara 1 – 1,5 kg dan akan didistribusikan langsung dijual ke konsumen, bahkan sebelum panen sudah banyak menerima pre-order.

Ketika ditanya apa kelebihan melon dibanding melon biasa, Kang Endang menerangkan bahwa melon Pangersa ini lebih manis dan lebih awet.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______


