Kenapa Pendidik Perlu Menulis?

Salah seorang Psikolog yang juga Pendiri Sekolah Cikal, Najelaa Shihab mengungkapkan alasan mengapa seorang pendidik perlu menulis.

“Ada sejuta alasan mengapa pendidik perlu menulis,” tulis Founder Sekolah Murid Merdeka yang dikutip dari kumparan.

Pendiri Sekolah.mu ini memaparkan paling tidak tujuh alasan. Pertama, bahwa tentang apa pun yang dilakukan pendidik, adalah kepentingan murid-muridnya.

Menulis adalah salah satu keterampilan utama yang dibutuhkan di masa depan. Maka pendidik harus meneladankan keterampilan tersebut.

Guru yang menulis bersama dengan muridnya, menunjukkan pentingnya menulis dalam berbagai pekerjaan dan aspek kehidupan.

Baca juga: Cara Sukses Menulis Buku Secara Mandiri

Kedua, menulis, di usia berapa pun, butuh latihan. Jangan menghambat diri dengan menetapkan target bahwa tulisan harus dipublikasi dan mendapat sambutan serta tepuk tangan.

Karena tujuan utama bagi pendidik yang mulai menulis adalah bisa menyampaikan gagasan dengan lancar dalam bentuk tulisan, bukan untuk menjadi sumber penghasilan yang diperjualbelikan.

Ketiga menurut pendiri Komunitas Semua Murid Semua Guru ini ialah menulis terbukti meningkatkan kompetensi diri, dalam perkembangan kognitif maupun sosial emosi.

Selain itu, menulis membiasakan refleksi dan berbagai teknik metakognisi. Menulis juga meningkatkan empati, bagi guru, setidaknya membuatnya lebih memahami kesulitan yang dialami murid pada saat harus menemukan ide, mencari kata dan memperlancar kalimat maupun menggunakan tanda baca dan berbagai konvensi.

Keempat, Mba Ela, sapaan akrabnya, menerangkan bahwa menulis adalah kegiatan yang menenangkan, di saat pekerjaan dan kehidupan penuh dengan kepadatan dan ketidakteraturan.

Menurutnya, waktu menulis adalah ruang paling menyenangkan sekaligus sepi, di hari yang things to do-nya super ramai.

Baca juga: Nuzulul Quran Momentum Untuk Meningkatkan Minat Baca

Ia menyatakan, banyak kita yang sejak dini pengalaman menulisnya justru menegangkan, dan sedihnya hal ini salah satu dampak dari proses pendidikan yang memaksa dan tidak memerdekakan.

Akibatnya, menulis selalu dilihat sebagai beban penugasan yang harus selesai, bukan sebagai saluran yang memberikan kendali pada kita yang berekspresi.

Kelima, bahwa menulis itu mematri kenangan dan mengukuhkan kepemilikan atas pengalaman.

“Salah satu bagian paling mendebarkan bagi saya setiap kali menulis, adalah sekelebatan insiden kecil, momen lucu, ucapan seseorang yang begitu berbekas dan menjadi pemantik untuk tulisan. Untuk sebagian besar orang, ini yang disebut ilham yaitu inspirasi awal yang kemudian dijabarkan lewat paparan. Yang saya sadari setelah menulis belasan buku, ilham bukan kebetulan ditemukan, tetapi dampak dari kebiasaan untuk merefleksikan apa yang paling melekat di hati dan pikiran setelah serangkaian pelajaran. Perjumpaan dengan banyak pihak, ada yang hilang tanpa kesan, ada yang kemudian sebagian percakapannya menempel sampai beberapa minggu kemudian. Saya kaitkan dengan berbagai kejadian atau bacaan, “menghantui” pikiran dan untuk menghayatinya dengan utuh “terpaksa” harus saya tuliskan,” paparnya.

Proses yang demikian itu menurutnya bisa menginternalisasi pengetahuan dan pemahaman, menguatkan kecenderungan dan sikap karena apa yang sebelumnya di luar diri, dinyatakan eksplisit lewat tulisan sebagai sesuatu yang kita maknai dan yakini.

Keenam, pendidik yang menulis menurut pendiri Keluarga Kita itu, sedang mengambil langkah terpenting untuk mewujudkan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Kritik dan diskusi, pembahasan dan inkuiri atas apa yang dituliskan teman sejawat (atau dalam konteks laporan misalnya, dituliskan oleh guru tentang anak kita), adalah modal penting untuk merencanakan aksi bersama.

Baca juga: 5 Ulama Besar Ini Tidak Bisa Baca dan Tulis

Apa yang berhasil, misalnya di kelas bisa diadaptasi oleh semua di sekolah, lalu strategi apa yang perlu dilakukan di rumah untuk mendukung prestasi.

“Begitu banyak hubungan dalam organisasi dan komunikasi antar sesama yang menjadi lebih efektif saat menggunakan materi tertulis dari guru sebagai rujukannya,” jelasnya.

Tujuh, bersuara dan terus bersuara, adalah inti dari tanggungjawab guru pada profesinya.

Pendidik, menurut putri dari Prof. Dr. M. Quraish Shihab ini adalah pemangku kepentingan yang interaksinya terbanyak dengan murid yang sangat beragam.

Setelah proses mendengarkan dan selalu mendengarkan murid, maka berkarya lewat cerita tentang proses seorang anak, atau implementasi sebuah konsep di konteks kelas, solusi yang terbukti menyelesaikan masalah, adalah kewajiban kita.

Karena saat ini kita hidup dalam eksosistem pendidikan, di mana banyak orang yang tak pernah berada di dalam kelas, punya begitu banyak pendapat dan asumsi tentang kebijakan dan apa yang harus dilakukan dalam praktik di lapangan.

Baca juga: Tips Mudah Agar Suka Membaca Buku

Tulisan pendidik ibarat harta karun yang sangat berharga untuk memperkaya sudut pandang dalam diskursus kita. Menurutnya, perdebatan dan penelitian pendidikan, perlu representasi perspektif otentik guru bukan hanya dengan lisan, tapi dengan dukungan data yang distrukturkan dalam tulisan, karena itulah yang paling berpengaruh.

Mba Ela mengajak pendidik untuk meluangkan10 menit setiap pagi atau sebagai rutinitas jurnal harian. Ia mendorong agar penulis sebagai bagian dari identitas pendidik demi menggerakkan perubahan pendidikan.

“Mari bersepakat, sebaik-baiknya pelajar sepanjang hayat, adalah juga penulis sepanjang hayat,” pungkasnya.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
______
Rekomendasi