Kekuatan Dzikir, Khataman dan Manaqiban

“Dzikir pada mulanya, tertulis di tiang-tiang Arsy, laa ilaaha illallah, tidak ada makhluk yang dijadikan Allah Swt kecuali ruhnya itu berdzikir dengan laa ilaaha illallah,” demikian tutur Haji Ali bin Haji Mohamed, salah seorang wakil talqin Pangersa Abah Anom.

Haji Ali menilai bahwa apa yang diajarkan dan diisikan oleh Pangersa Abah Anom adalah suatu hal yang sangat besar dalam hidup ini. Nabi Saw bersabda;

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Talqinkanlah oleh kalian orang yang akan mati di antara kamu kalimat laa ilaaha illallah (HR. Muslim).

Ajarkanlah orang yang akan mati laa ilaaha illallah. Orang yang akan mati itu bukan berarti bahwa dia lima atau sepuluh menit lagi meninggal dunia. Mautakum di sini maknanya orang yang akan mati. Karena Allah Swt berfirman:

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۖ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. (Al-Ankabut: 57).

“Berarti kita semua senantiasa hampir kepada mati,” ucapnya.

Baca juga: H. Ali bin Haji Mohamed dan TQN Suryalaya di Singapura

Maka itu dzikir ini adalah pengamalan yang besar. Lalu apa besarnya dzikir laa ilaaha illallah yang ditalqinkan kepada kita?

Wakil Talqin asal Singapura itu menerangkan bahwa, pertama, laa ilaaha illallah adalah sesuatu yang akan dapat menguatkan diri kita sebagai seorang muslim.

Kedua, laa ilaaha illallah menghubungkan diri kita langsung dengan Allah.

Ketiga, laa ilaaha illallah memfana’kan diri kita dari pada dunia yang akan kita tinggalkan.

Keempat, laa ilaaha illallah yang menjamin diri kita untuk masuk surga.

Kelima, laa ilaaha illallah sebagai kekuatan umat Islam.

Dua belas tahun Rasulullah Saw menguatkan tauhid hanya dengan kalimat laa ilaaha illallah. Sayyidina Bilal pun kuat menerima ujian dengan dzikir tersebut.

“Itulah kemurnian dan kebesaran kalimah laa ilaaha illallah bagi setiap umat Islam. Harus mengisikan kalimah laa ilaaha illallah itu hingga kepada kamalul yaqin, kesempurnaan yakin kita terhadap Allah Swt dengan kalimah itu. Banyak manusia yang mengucapkan laa ilaaha illallah tapi tidak dapat menghubungkan dirinya dengan Allah Swt,” paparnya.

Baca juga: Mengapa Abah Anom Disebut Mujadid dan Neo-Sufism

Hadis yang masyhur, ketika Rasulullah Saw diminta oleh Sayyidina Ali kw tentang jalan yang paling dekat, mudah, utama maka Rasulullah Saw mengajarinya laa ilaaha illallah.

سأل علي رضي الله عنه النبي الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فقال يا رسول الله: دلني على أقرب الطرق إلى الله تعالى وأسهلها على عباده وأفضلها عند الله تعالى. فقال يا علي عليك بمداومة ذكر الله تعالى في الخلوة

فقال علي كيف أذكر يا رسول الله قال عليه الصلاة والسلام غمض عينيك واسمع مني ثلاث مرات ثم قل أنت ثلاث مرات وأنا أسمع. فقال النبي رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لا إله إلا الله ثلاث مرات مغمضا عينيه رافعا صوته وعلي يسمع ثم قال علي لاإله إلا الله ثلاث مرات مغمضا عينيه رافعا صوته والنبي رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يسمع

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku satu jalan yang paling mendekatkan diriku pada Allah dengan cara ibadah yang mudah dilakukan serta paling afdhal di sisi Allah.” Rasulullah bersabda: “Wahai Ali hendaknya engkau mendawamkan dzikir kepada Allah dalam kesendirian.”

Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Bagaimana caranya wahai Rasulullah saya berdzikir?” Rasulullah menjawab,” Pejamkan matamu, simak aku tiga kali, lalu ucapkan hal serupa sebanyak tiga kali dan aku mendengarkannya.”

Nabi lalu mengucapkan: “Laa ilaha ilallah. Laa ilaha ilallah. Laa ilaha ilalllah.”

Sayyidina Ali mendengarkan, kemudian mengikuti ucapan lafadz dzikir yang sama sebagaimana halnya yang ditalqinkan oleh Rasulullah Saw sebanyak tiga kali.

Jadi dengan mengamalkan laa ilaaha illallah, kata Haji Ali, akan menjadi kekuatan dalam hidup dan penghidupan kita. Menjadi kekuatan bila mana dalam keadaan senang atau pun susah.

Menurut wakil talqin yang diangkat pada tahun 1975 ini, kondisi umat Islam senantiasa imannya terguncang. Dunia juga bila tidak diatasi bisa menggerus iman.

“Maka kita kembalikan iman itu dengan meneruskan laa ilaaha illallah, meneruskan dzikrullah supaya hati kita selamat dan bahagia, hati kita benar-benar bertaqwa kepada Allah Swt dan bisa menghadapi masalah dunia ini,” ujarnya.

Baca juga: ‘Uqudul Jumaan Mata Rantai Permata TQN Pontren Suryalaya

Banyak Rahasia Tersirat dalam Khataman

Kedua, yaitu khataman. Sudah sepatutnya bagi kita mengamalkannya, jangan dipersoalkan apa-apa. Harus kita mempunyai keikhlasan dan keyakinan terhadaap pengamalan kita. Itu yang pertama dan utama.

Ada yang mampu melihat apa itu sebenarnya khataman. Haji Ali melihat bahwa khataman itu adalah susunan awrad yang disusun oleh mereka yang sudah ma’rifat dan dinamakan khataman. Yang di dalamnya terdapat sesuatu yang luar biasa.

Bacaan dan ayat-ayatnya itu pendek, di dalamnya ada shalawat dan do’a. Menariknya, doa dalam khataman tidak menyebutkan perkara dunia, tetapi tersirat perkara dunia. Singkatnya, khataman itu tersurat bacaannya, tapi tersirat begitu banyak maknanya.

Allahumma Ya Qadhiyal Hajat begitu dalam artinya. Kita sembunyikan hajat-hajat kita, karena Allah lebih tahu hajat kita, dan seterusnya,” ungkapnya.

Dalam tawassul misalnya, dikirimkan al fatihah kepada para ulama berbagai mazhab. Ada ulama Hanafi, Syafii, Maliki, ada juga ulama Syiah, tapi menurut Syiah, yakni Imam Ja’far Shadiq yang termasuk Imam Syi’ah yang dua belas. Khawajah an Naqsyabandi, Khawajah itu bahasa Iran yang artinya Imam.

Lebih lanjut, murid Abah ini mengatakan, khataman menjadikan kita ahlussunnah wal jamaah yang tulen dan benar. Khataman juga akan menjadikan kita manusia yang diangkat derajatnya oleh Allah. Khataman menjadikan manusia mengikuti jalan para ulama, para shalihin, para aulia dan sebagainya.

“Dalam khataman kita melihat bagaimana kaidahnya orang yang telah ma’rifat kepada Allah berdoa,” katanya.

Baca juga: Ini Landasan Ilmiah Manaqib

Haji Ali menegaskan, ikhwan akhwat TQN harus yakin dalam mengamalkan khataman. Yakini di dalamnya ada seribu pengertian, yang kita sendiri tidak mampu menerangkannyea.

Jadi amalkan saja. Tetapi perlu sabar. Sabar jika doa belum diijabah. Maka lebih kuat berdzikir kepada Allah dan melakukan khataman. Beliau mengakui, puluhan tahun menghadapi bermacam masalah dan gelombang hidup bisa diatasi dengan berkah dzikir dan khataman.

Selanjutnya, ada tujuh tawassul. Tawassul ini menghubungkan kita dengan alam ini. Bukan saja kita bertawassul dengan masyayikh TQN tetapi semuanya.

Mulai dari al malaikah almuqarrabin, min Adam ila yaumil qiyamah, al khulafa’ ar rasyidun yang semua itu merupakan ahlul jannah. Kita hubungkan diri kita mereka.

Lalu aimmatul mujtahidin wa muqallidihim fid din, wal ‘ulama ar rasyidin, wal qurra’il mukhlishin, wa ahlit tafsir, wal muhadditsin, wa sa’iris sadah al shufiyah al muhaqqiqin.

Tawassul hingga bapak ibu kita dan kaum muslimin dan muslimat. Apalagi yang dikhususkan adalah para masyayikh thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah, tapi juga wa jami’i ahlit thuruq (semua ahli tarekat).

“Jadi bila kita bertawassul sebelum membaca khataman dan manaqib Syekh Abdul Qadir al Jailani, maka ada kekuatan hubungan kita dengan manusia-manusia yang dipilih dan dimuliakan Allah dari para nabi, para aulia, para shalihin, kita bersama dengan mereka,” jelasnya.

Baca juga: Siapa Saja yang Berhak Mendapatkan Talqin Dzikir

Orang dapat merasakan hubungan itu dengan pengamalan dzikir, tawassul, khataman serta manaqib Syekh Abdul Qadir al Jailani.

Ikhwan akhwat juga jangan ragu-ragu dengan manaqib yang isinya bermacam macam karamah. Karena Allah menyebutkan macam karamah di dalam al Qur’an, seperti karamah ashabul kahfi dan sayyidah Maryam yang bukan nabi dan rasul.

“Jadi kalau Allah memberikan karamah kepada Syekh Abdul Qadir al Jailani itu adalah hak-Nya. Kita beruntung bersama-sama menjadi murid seorang wali yang besar Tuan Syekh Abdul Qadir al Jailani qs,” pungkasnya.

Haji Ali bin Haji Mohamed juga menyatakan, Syekh Abdul Qadir berkata, kalau kamu benar-benar inginkan sesuatu untuk aku bermohon dengannya. Maka sebelum itu katakanlah bismillahi ‘ala niyyati Sayyidis Syekh Abdil Qadir al Jailani. Tidak ada wali yang berani mengatakan demikian kecuali beliau, tambah beliau.

Baca juga: Apakah Rasulullah Saw Pernah Melakukan Talqin Secara Berjamaah

Dalam manaqib kita semua berharap mendapat berkah dari Pangersa Abah dan Tuan Syekh Abdul Qadir al Jailani. Amalan TQN juga akan menyampaikan hajat-hajat kita. Ini kebaikan dari sisi amalan dzahiriyahnya. Selain itu, Haji Ali juga menyampaikan, kita perlu menghayati tanbih, yang disampaikan dalam berbagai bahasa karena di dalamnya terdapat karamah.

Rekomendasi