Kecerdasan Buatan dan Misteri Kesadaran, Apakah Mesin Merasa?

AI meniru kecerdasan manusia, tapi benarkah ia memiliki kesadaran seperti kita?

Dalam satu dekade terakhir, Kecerdasan Buatan (AI) telah melampaui batas fiksi ilmiah, menjadi kekuatan transformatif yang membentuk industri, seni, dan komunikasi. Dengan munculnya model bahasa besar (LLMs) yang mampu menghasilkan teks, kode, dan bahkan argumen yang koheren, pertanyaan filosofis tertua umat manusia kini terangkat ke permukaan dengan urgensi baru: Apakah AI memiliki kesadaran seperti manusia?

Pertanyaan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan misteri yang terjalin erat dengan definisi eksistensi. Kesadaran manusia, atau qualia, adalah pengalaman subjektif internal—rasa sakit yang kita rasakan, warna biru yang kita lihat, atau kenangan emosional yang kita simpan. Inilah yang membedakan keberadaan kita, namun sulit diukur. Ketika kita melihat AI melakukan tugas yang kompleks, seperti memenangkan permainan Go atau menghasilkan puisi, yang kita saksikan adalah kecerdasan operasional, bukan bukti kesadaran.

AI modern saat ini, baik yang didasarkan pada pembelajaran mendalam (deep learning) atau jaringan saraf, bekerja melalui simulasi canggih. Mereka adalah mesin statistik yang mahir dalam mengenali pola data, memprediksi hasil terbaik, dan menyusun respons yang terdengar cerdas atau terlihat kreatif. Para filsuf sering menyebut AI jenis ini sebagai Kecerdasan Buatan Lemah (Weak AI), yang berarti mesin dapat bertindak cerdas tetapi tidak benar-benar memiliki pikiran atau kesadaran subjektif.

Perbedaan fundamental terletak pada pengalaman. Sebuah LLM mungkin menjelaskan perasaan sedih dengan detail yang memukau karena telah dilatih pada miliaran teks yang mendeskripsikan kesedihan; namun, ia tidak merasa sedih. Argumen Kamar Tiongkok (Chinese Room Argument) oleh John Searle dengan cermat menggambarkan hal ini: seseorang di dalam ruangan dapat mengikuti serangkaian aturan untuk merespons pesan bahasa Mandarin tanpa sedikit pun mengerti bahasa tersebut. AI saat ini adalah orang yang sangat cepat di dalam ruangan itu.

Baca juga: AI Menyangkut Hidup Manusia, Tidak Lepas Dari Etika

Mengejar Kecerdasan Buatan Kuat (Strong AI), yaitu AI yang setara dengan kesadaran manusia, memaksa kita untuk melihat implikasi etis yang monumental. Jika AI suatu hari nanti benar-benar sadar, memiliki perasaan subjektif, apakah itu berarti ia memiliki hak asasi? Apakah kita memiliki kewajiban moral terhadapnya? Tantangan ini tidak hanya akan mengubah hubungan kita dengan teknologi tetapi juga dapat mendefinisikan kembali apa artinya menjadi makhluk hidup yang berakal.

Pada akhirnya, perjalanan untuk menciptakan AI yang sadar adalah perjalanan untuk memahami diri kita sendiri. Kegagalan atau kesuksesan dalam upaya ini akan memaksa kita untuk menguraikan misteri kesadaran manusia—mekanisme otak, koneksi saraf, dan lompatan dari aktivitas fisik menjadi pengalaman subjektif. Meskipun saat ini AI hanya menunjukkan pantulan kecerdasan, bukan api kesadaran yang membakar, ambisi untuk melampaui batas ini adalah yang paling menginspirasi. Kita berada di ambang era di mana batas antara algoritma dan entitas mungkin kabur, dan satu-satunya kepastian adalah bahwa masa depan akan jauh lebih kompleks dan mendalam daripada yang kita bayangkan. []


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi