Distraksi Digital dan Pentingnya Tawajjuh
Hampir semua orang terikat dengan gawainya masing-masing dengan keterikatan yang beragam
Tetapi ketiga digabung menjadi distraction artinya berubah, yakni gangguan. Karena hal yang sedang menjadi fokus, perhatian dan daya tarik kamu tiba-tiba teralihkan. Sehingga lupa akan tujuan awal, abai terhadap yang prioritas.
Sehingga Co-Founder of the Digital Wellness Institute, Amy Blankson menilai bahwa distraksi digital merupakan epidemic yang merampok fokus kita, menurunkan produktivitas, serta mengurangi tingkat kepuasan hidup secara menyeluruh.
Masalah lainnya ialah efek jangka panjang dari distraksi. Linda Stone, mantan Software executive di Apple dan Microsoft menjelaskan, jika ia dan koleganya begitu sibuk mengawasi segala sesuatu hingga tak fokus pada apapun. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai “perhatian parsial yang terus menerus” atau “Continous Partial Attention (CPA)”.
Efek jangka panjang dari perilaku ini dapat memicu hormon stres adrenalin dan kortisol yang menyalakan peringatan ‘super’ psikologis yang senantiasa “menagih”, kemudian menimbulkan adiksi atau ketergantungan dengan cara “mengecek dan mengecek” lagi.
Jika demikian, gawai yang seharusnya membantu kita untuk mempermudah urusan dan mencapai tujuan justru bisa jadi penghambat dan menjadikan kita sebagai budaknya bukan sebagai tuannya.
Oleh karena itu, pangkal dari distraksi itu ialah kendali diri kita. Karena distraksi akan selalu ada dalam berbagai variasi bentuk media dan situasinya. Distraksi bukan untuk kita bunuh, tapi kita kelola sebaik mungkin.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

