Cara Bedakan Sufi Hakiki dan Sufi Delusi

Manusia dicipta untuk menjadi khalifah atau wakil, kepanjangan tangan Allah di muka bumi

Sebagaimana Allah selalu sibuk bekerja, Allah juga menyukai orang-orang yang bekerja keras menghasilkan kebajikan. Kerja kebajikan (amal shalih) beserta iman adalah standar minimal bagi manusia untuk dapat masuk surga.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya. [Surah Al-Baqarah: 82]

Wakil Ketua MUI Pusat Komisi Pendidikan dan Kaderisasi ini juga menyebutkan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pada derajat yang tinggi.

“Ulama adalah pewaris para nabi, sehingga ikan-ikan di lautan pun selalu memuji dan mendoakan ulama. Ibadah tanpa ilmu, tidak sah. Ilmu tanpa amal shalih tidak bermakna” jelasnya.

Baca juga: Sanad Perjuangan Guru Sufi Itu Nyata

Allah Maha Kuasa dan Maha Penentu (Al Jabbar). Tetapi Allah juga Maha Adil sehingga kepada manusia diberikan kebebasan memilih berdasarkan ilmunya. Kepada manusia diberikan kewenangan (otoritas) yang sangat luas sekaligus tanggung jawab.

Dengan keadilan-Nya Allah akan menilai tanggung jawab manusia. Untuk itulah ada pahala dan dosa, ada surga dan neraka, lugasnya.

Kiai Wahfi mengkritik orang yang mengaku sufi padahal enggan bekerja dan malas belajar untuk menuntut ilmu.

“Jangan berdusta, Allah membenci kemalasan yang disembunyikan di balik sabar dan tawakkal. Bukankah Rasulullah juga mengingatkan kita untuk berlindung kepada Allah dari khusyuk badan tapi munafiq qalbu. Ibadah yang tidak dilandasi oleh ilmu, kesadaran, dan kerelaan akan sia-sia,” pungkasnya.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi