Bukti Cinta Dengan Berkurban

Menjadi mulia memang tak cukup hanya dengan pengakuan, dibutuhkan adanya pembuktian

Banyak kaum rendahan di negeri ini telah berkorban untuk keutuhan dan kesejahteraan bangsanya. Para petani, penggembala, nelayan dan buruh berupah rendah, bekerja siang dan malam untuk penghasilan yang tak seberapa, namun profit margin terbesar dinikmati oleh para saudagar besar di kota besar, juga pejabat birokrat pengutip pajak yang selalu dianggap bermartabat. Dengan bismillah mereka mengawali kerja, demi iman kepada Allah mereka berusaha. Mereka tahu, usaha mereka hanya memberikan hasil yang tak seberapa di dunia, tapi itulah ibadah. Mereka tahu “kurban adalah puncak pengabdian penuh cinta dari seorang hamba kepada Allah, kekasihnya”.

Kita adalah ayah dan ibu bagi anak-anak bangsa ini. Ada yang dhu’afa (lemah secara intrinsik, mungkin karena terlahir cacat dan membawa penyakit turunan), tapi ada juga yang mustadh’afiin (lemah karena terlemahkan!). Mereka adalah orang-orang yang sehat dan kuat jismani rohani, inetelektual dan emosional, tetapi sistem sosial telah melemahkan mereka. Kebijakan ekonomi dan politik meminggirkan mereka. Mereka adalah anak-anak bangsa yang lemah dan terlemahkan. Ayah dan ibu yang baik adalah ayah ibu yang rela berkorban untuk anak-anaknya yang lemah. Kalau betul mencintai Allah cintailah Rasulullah; kalau betul mencintai Rasulullah cintailah orang-orang yang dicintai Rasulullah, mereka adalah para dhu’afa dan mustadh’afiin. Ayo kita berkurban karena “kurban adalah puncak pengabdian penuh cinta dari seorang hamba kepada Allah, kekasihnya”.

“To Love is To Sacrifice” – “Mencintai adalah Berkurban”

Ketika Ismail sudah dibaringkan tengkurap, karena kalau ditelentangkan sang ayah tak akan sanggup menatap wajah si anak yang dicintainya, dan pedang pun sudah terangkat tinggi-tinggi siap untuk ditetakkan, Allah SWT berkata: “Cukup! Itu hanya ujian bagimu. Akankah cinta dan taatmu kepada Tuhan akan terkalahkan oleh cintamu kepada anak yang sangat rupawan itu”. Allah SWT pun memunculkan seekor kambing besar untuk disembelih sebagai pengganti.

Baca juga: 6 Adab Berkurban

Dalam mencintai Allah tak boleh ada kesetiaan yang terpecah. Harus dipilih, yang mana yang Paling Dicintai, selebihnya hanya boleh berada pada urutan berikutnya. Yang berikutnya pun, kalaupun dicintai juga, harus dengan merujuk (ada referensi) pada cinta kepada Allah.

Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS at-Tawbah/9:24).


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi