Bongkar Empat Kesalahpahaman Orang Tentang Tarekat

Fatalisme itu pasrah total, pasrah bongkokan, orang tidak mau lagi berikhtiar

Lalu muncul feodalisme baru yaitu feodalisme ketarekatan. “Kalau sudah dianggap sebagai sufi, apalagi disebut sebagai mursyid, khalifah, badal, sudah berpakaian jubah bersorban, maka seakan-akan dia sumber kesucian segala-galanya. Lalu orang menjadi feodalistik dalam memperlakukan orang seperti itu,” jelas Mudir Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) 2018-2020.

Padahal, menurut Kiai Wahfi, tokoh-tokoh seperti itu ada inner circle atau ada kaki tangan di sekitarnya. Yang justru sering kali memanfaatkan atau mengambil keuntungan dari berkerumunannya orang-orang. Padahal orang yang dianggap suci ini bisa jadi kesuciannya hanyalah semu.

“Diadakanlah ritual-ritual yang melibatkan orang banyak, yang massal, yang kolosal. Dan kalau sesuatu kalau sudah bersifat massal, kolosal pasti akan melibatkan peredaran uang dalam jumlah banyak. Karena kan untuk makan aja gak gratis,” tambahnya.

Persoalannya, kata Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat ini, bahwa perputaran uang itu kemudian siapa yang mengendalikan? Karena sudah dianggap tarekat, dianggap orang-orang suci, maka setelah kegiatan-kegiatan itu jarang ada laporan keuangan yang transparan dan akuntabel. Padahal sebenarnya di situ tetap saja ada mekanisme pasar dan ada yang mengambil keuntungan.

Yang keempat, papar Dewan Pengawas Syariah LAZNAS DPF itu, tarekat itu sering kali dianggap sebagai egoisme. Jadi orang bertarekat, lalu khalwat dan suluk memusatkan diri hanya bermesraan dengan Allah, tapi dia tidak mau lagi terlibat dalam kehidupan sosial.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi