Apa Saja Ciri-ciri Mursyid Kamil Mukammil?

Bagaimanakah ciri-ciri Mursyid Kamil Mukammil yang munculnya sangat jarang. Karenanya ia yang menjadi seorang pemimpin pada suatu zaman tertentu?

Tidak mudah untuk menyandang predikat Guru Mursyid Kamil Mukammil, kalau bukan Allah sendiri yang menunjuknya.

يَهۡدِي ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُۚ

Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, [Surah An-Nûr: 35]

Secara khusus para ulama memberikan kriteria atau ciri-ciri Guru Mursyid Kamil Mukammil.

Menurut Kitab Khazinatul Asrar halaman 194 disebutkan bahwa Guru Mursyid yang sah menjadi pewaris Nabi Muhammad Saw di antaranya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

ﻭَﺷُﺮُﻭْﻁُ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳَﺼْﻠُﺢُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻧَﺎﺋِﺒًﺎ ﻟِﺮَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺹ ﻡ . ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺗَﺎﺑِﻌًﺎ ﻟِﺸَﻴْﺦٍ ﺑَﺼِﻴْﺮٍ ﻳَﺘَﺴَﻠْﺴَﻞُ ﺇِﻟَﻰ ﺳَﻴِّﺪِ ﺍﻟْﻜَﻮْﻧَﻴْﻦِ ﺹ ﻡ . ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻋَﺎﻟِﻤًﺎ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻞَ ﻻَﻳَﺼْﻠُﺢُ ﻟِﻺِﺭْﺷَﺎﺩِ ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻣُﻌْﺮِﺿًﺎ ﻋَﻦْ ﺣُﺐِّ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺣُﺐُّ ﺍﻟْﺠَﺎﻩِ ﻭَﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻣُﺤْﺴِﻨًﺎ ﻟِﺮِﻳَﺎﺿَﺔِ ﻧَﻔْﺴِﻪِ

“Syarat-syarat guru yang patut menjadi pengganti Rasulullah Saw adalah;

Mengikuti seorang guru yang dapat melihat (dengan hati) yang menyambung silsilahnya sampai kepada Rasulullah, sang pemimpin dua makhluk (jin dan manusia).

Baca juga: Peran Rasulullah Saw yang Dilanjutkan Guru Mursyid

Harus ‘Alim (menguasai ilmu dzahir dan bathin), sebab orang yang bodoh tidak bisa menjadi penunjuk kebenaran.

Selalu berpaling dengan kecintaan kepada dunia dan kedudukan.

Selalu baik dalam mendidik Nafsunya (Riyadlatun-Nafsi), seperti sedikit makan dan minum, serta berbicara dan banyak shalat, shadaqah serta berpuasa.

Mempunyai sifat dan akhlaq terpuji, seperti : sabar, tawakkal, yakin, pemurah, qana’ah, pengasih, tawadhu’, shiddiq (jujur dan benar), haya’ (malu), wafa’ (memenuhi janji), wiqar (ketetapan hati) dan syukur.

Dalam kitab Tanwirul Qulub karangan Syeikh Muhammad Amin Kurdi disebutkan bahwa syarat seorang Guru Mursyid Kamil itu ada 24 syarat, yang ringkasnya adalah Sirah Guru Mursyid tersebut seperti sirah (perilaku) Rasulullah Saw, di antaranya:

Harus seorang yang alim dalam segala keilmuan yang dibutuhkan oleh para murid.

Harus seorang yang Arif terhadap kesempurnaan kalbu dan adab-adabnya, serta mengetahui segala bencana dan penyakit nafsu serta cara menyembuhkannya.

Seorang yang lemah lembut, pemurah kepada kaum muslimin, khususnya kepada para muridnya. Apabila melihat para muridnya belum mampu untuk melawan nafsunya dan kebiasaannya yang jelak misalnya, beliau lapang dada terhadap mereka setelah menasehatinya dan bersikap lemah lembut kepadanya sampai mereka mendapat petunjuk.

Selalu menutupi segala yang timbul dari aib yang menimpa para muridnya.

Bersih dari harta para muridnya serta tidak tamak terhadap apa-apa yang ada di tangan para muridnya.

Baca juga: Wali Mursyid Itu Perlu

Selalu melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan Allah, sehingga segala perkataannya berbekas pada diri para muridnya.

Tidak banyak bergaul dengan para muridnya kecuali sekedar perlu dan selalu mengingatkan hal-hal yang baru dalam hal tarekat dan syari’ah sebagai upaya membersihkan jiwa dan agar beribadah kepada Allah dengan ibadah yang benar.

Perkataannya bersih dari berbagai kotoran hawa nafsu, senda gurau, dan dari segala yang tidak bermanfaat.

Lemah lembut dan seimbang dalam hak dirinya, sehingga kebesaran dan kehebatannya tidak mempengaruhi dirinya.

Selalu memberi petunjuk kepada para muridnya dalam hal-hal yang dapat memperbaiki keadaannya. (Tanwirul Qulub).

Dijelaskan dalam kitab Ummul Barahin halaman 69,

ﻭَﻳَﺨْﺘَﺎﺭُﻩُ ﻟِﻠﺼَّﺤْﺒَﺔِ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺆَﻳِّﺪِﻳْﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺑِﻨُﻮْﺭِ ﺍﻟْﺒَﺼِﻴْﺮَﺓِ ﺍﻟﺰَّﺍﻫِﺪِﻳْﻦَ ﺑِﻘُﻠُﻮْﺑِﻬِﻢْ ﻓِﻰ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌَﺮَﺽِ ﺍﻟْﺤَﺎﺿِﺮِ ﺍﻟْﻤُﺸْﻔِﻘِﻴْﻦَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴْﻦِ ﺍﻟﺮُّﺅَﻓَﺎﺀِ ﻋَﻠَﻰ ﺿُﻌَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻓَﻤَﻦْ ﻭَﺟَﺪَ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺼِّﻔَﺔِ ﻓِﻰ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﺍﻟْﻘَﻠِﻴْﻞِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﺟِﺪًّﺍ ﻓَﻠْﻴَﺸُﺪَّ ﻳَﺪَﻩُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟِﻴَﻌْﻠَﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻻَﻳَﺠِﺪُ ﻟَﻪُ ﺛَﺎﻧِﻴًﺎ ‏

“Dan Ulama memilih untuk berguru kepada imam-imam muayyidin (yang menguatkan) agama Allah dengan nur pengawasannya, yang zuhud (zahidin) terhadap/dari dunia (harta), yang mengasihi (musyfiqin) orang-orang miskin, yang lembut dan kasih sayang (ru’afa) kepada orang-orang mukmin yang lemah. Maka siapa menemukan seseorang yang bersifat seperti sifat ini pada zaman yang sangat sedikit kebaikannya ini, maka berpegang kuatlah dan belajarlah kepadanya, karena sesungguhnya ia itu tiada duanya”

Baca juga: Kiai Athorid Siraj Inti Thariqah adalah Mursyid

Dari keterangan di atas disebutkan ada syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi Guru Mursyid Kamil, yaitu:

1. Muayyidin: Memperkuat dan menghidupkan ajaran agama Islam dengan Nur Bashiroh (mata hatinya).

2. Zahidin: Zuhud terhadap harta dunia, tidak mau meminta-minta kepada manusia dan jin.

3. Musyfiqin: menyayangi orang-orang miskin, menyantuni ribuan orang melarat dengan penuh kasih sayang.

4. Ru’afa’u lil mu’minin: memiliki kasih sayang dalam mendidik orang-orang bodoh sehingga memiliki keimanan yang haqqul yaqin (Mu’min sejati).

Itulah di antaranya berbagai ciri Guru Mursyid Kamil yang akan mendidik kita agar sampai kepada Allah Swt, berdasarkan pengalaman dirinya yang memang beliau sudah wushul kepada Allah Swt.

Carilah Guru Mursyid yang memenuhi kriteria tersebut walaupun harus pergi sampai ke ujung dunia, walaupun harus merangkak di atas salju. Karena Dialah yang memahami jalan keselamatan dunia akhirat. Alangkah ruginya orang yang tidak memiliki Guru Mursyid. Lebih rugi lagi, orang yang sudah menemui Guru Mursyid tapi tidak bisa mengambil manfaat dan hikmah darinya.

Baca juga: Pesan Abah Anom Agar Pengamal TQN Belajar Ilmu Keislaman

Hati-hati Mursyid Gadungan

Sayyid Utsman bin Yahya, Mufti Jakarta mengingatkan agar berhati-hati dengan Guru Mursyid Gadungan walaupun secara dzahir sanad thariqahnya bersambung kepada Rasulullah Saw, tapi secara batin belum tentu tersambung dengan Sirr-nya Rasulullah Saw.

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani juga mengingatkan bahaya Mursyid Gadungan ini dalam kitab Masyra’ur Rawi.

المرشد إذا أحب الدنيا فهو كلب عقور

Syaikh Abdul Qodir Jailani berkata: “Seorang Mursyid jika mencintai dunia maka dia adalah anjing buas”.

Mursyid gadungan ini, akhlaknya tidak mengikuti akhlaknya Rasulullah saw dan perilakunya tidak mengikuti Sunnah Rasulullah Saw. Demikianlah, semoga bermanfaat.

Penulis: Dr. H. Ajid Thohir (Ketua Dewan Pakar LDTQN Pusat)


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
______
Rekomendasi