Jejak Lisan dan Batin Abah Anom

Meneladani Abah Anom dalam menyatukan ilmu, akhlak, zikir, dan pengabdian kepada umat

Kita baru saja memperingati Hari Santri Nasional tahun 2026. Peringatan ini bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan kaum santri, melainkan juga menjadi momentum untuk merenungkan kembali hakikat kesantrian dalam kehidupan kita.

Santri memiliki tempat yang istimewa dalam sejarah perjuangan agama dan bangsa. Dari pesantren lahir para ulama, pendidik, pejuang, dan tokoh masyarakat yang mengabdikan hidupnya untuk menegakkan nilai-nilai agama, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menjaga persatuan umat.

Namun, ada pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama: santri seperti apakah yang sesungguhnya ingin kita lahirkan? Apakah santri yang hanya menguasai banyak ilmu, tetapi belum mampu menjaga akhlaknya? Apakah santri yang pandai berbicara tentang agama, tetapi belum sungguh-sungguh mengamalkan ajarannya? Ataukah santri yang menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan memberikan manfaat bagi sesama?

Pangersa Abah Anom, Syekh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra, memberikan keteladanan penting tentang bagaimana ilmu, akhlak, zikir, dan pengabdian seharusnya menyatu dalam kehidupan seorang Muslim. Dari keteladanan beliau, kita belajar bahwa menjadi santri bukan semata-mata tentang tempat seseorang belajar.

Menjadi santri adalah tentang kesungguhan mencari ilmu, kesediaan memperbaiki diri, keteguhan menjaga adab, dan keikhlasan mengabdikan ilmu bagi kemaslahatan umat.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi