Jejak Lisan dan Batin Abah Anom
Meneladani Abah Anom dalam menyatukan ilmu, akhlak, zikir, dan pengabdian kepada umat
Seorang santri tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya. Ia harus terus belajar, sebab kehidupan selalu menghadirkan persoalan baru yang membutuhkan kebijaksanaan. Ia juga tidak boleh berhenti memperbaiki diri, sebab mengetahui kebaikan belum tentu berarti telah mampu melaksanakannya.
Disinilah kita menemukan pelajaran penting dari keteladanan Abah Anom: ilmu bukan untuk membesarkan diri, melainkan untuk memperbaiki diri. Ilmu bukan untuk merendahkan orang lain, melainkan untuk membimbing dan memberi manfaat kepada sesama.
Dari keteladanan Pangersa Abah Anom, kita dapat memahami pendidikan sebagai proses yang menyeluruh. Pendidikan tidak cukup hanya mengembangkan kecerdasan akal, tetapi juga harus membina ruhani, menumbuhkan adab, dan membimbing manusia agar mampu mengamalkan nilai-nilai kebaikan melalui empat dimensi utama. Tarbiyah: Proses pembinaan dan pertumbuhan diri agar terbentuk pribadi yang sabar, ikhlas, disiplin, bertanggung jawab, dan istiqamah dalam kebaikan.
Ta‘lim: Proses memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan mencintai ilmu, menghormati guru, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Ta’dib: Pembentukan adab dan perilaku mulia. Kepandaian harus disertai kesantunan, perbedaan pendapat tidak menjadi alasan untuk menghina, dan kedudukan tidak menjadikan seseorang sombong.
Talqin: Pengajaran zikir dalam tradisi Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjaga kesadaran ruhani, serta menumbuhkan keikhlasan hidup.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

