Wakil Talqin Hanya Wasilah, Yang Mentalqin Semua Abah Anom

“Mari kita senantiasa segarkan ingatan pemahaman dan kesadaran kita agar tidak keluar dari relnya. Tidak keluar dari asas tujuan kita berthariqah,” demikian ajak KH. Asep Samsurizal Hudaya, M.Si dalam salah satu Khidmah ilmiahnya.

Kiai Asep mengingatkan bahwa jangan sampai tujuan yang mulia dan baik, tujuan mengharap ridha Allah tapi malah sebaliknya mendapat laknat Allah akibat caranya yang salah.

Begitu juga, punya tujuan mengharapkan keberkahan dan karamah Guru Agung dengan khidmat, tapi malah sebaliknya, karena suul adab justru akhirnya celaka. Jadi tujuan yang baik dan benar mesti ditempuh pula dengan cara yang baik dan benar pula.

Wakil Talqin domisili Cianjur ini mengatakan bahwa bagi pengurus organisasi di lingkungan Pontren Suryalaya ada tugas khidmah tambahan dalam organisasi yang digelutinya.

Baca juga: Menentukan Jumlah Dzikir Tertentu Bukan Bidah Yang Dilarang Agama

“Semuanya sama-sama mengamalkan, mengamankan dan melestarikan ajaran thariqah dari Pangersa Abah Anom. Tuntunan pokok dari beliau ialah dzikir, khataman dan manaqib,” jelas Kiai Asep.

Menurutnya, Abah Anom telah memberi tuntunan yang ringan dan mudah. Namun karena ringan dan mudah didapatnya, sering sekali justru diabaikan. Berbeda dengan sesuatu yang didapat dengan susah payah.

Kiai Asep mendapat cerita dari ayahandanya Ajengan KH. Aang Muhaiminul Aziz bahwa sekarang orang mendapat talqin dzikir demikian mudahnya berbeda dengan dahulu.

Dahulu zaman Abah Sepuh, kalau mau ijazah talqin dzikir itu dilihat dahulu usianya, pada saat itu usia minimal 40 tahun atau misalnya belum nikah, tapi ditanya sudah nikah belum? Kalau jawab sudah nikah, maka sudah masuk syarat.

Tujuan kamu apa mau ditalqin? Maka, kata Kiai Asep, selama orang itu belum menjawab tujuannya Ridha Allah, maka orang itu tidak dikasih talqin dzikir.

Baca juga: Talqin Alat Untuk Wushul Kepada Allah

“Sampai pada titik dia pasrah hanya satu yang dimohon ridha Allah, baru. Tapi tidak cukup sampai situ, untuk menguji kesungguhannya itu ditambah lagi ujiannya. “Kalau kamu sungguh-sungguh mau ijazah dzikir, belajar dzikir maka kamu laksanakan puasa selama empat puluh hari empat puluh malam, kamu enggak tidur, nah itu,” cerita Kiai Asep.

Padahal sebenarnya antara beratnya (ketika mau ditalqin) dulu dengan ringannya sekarang nilainya sama. Yakni ketika kita mengupayakan secara istiqamah dan penuh keyakinan terhadap Guru Mursyid.

Pangersa Abah Anom luar biasa, tambahnya, beliau membuat tuntunan yang mudah, ringan dan bisa siapa saja.

“Syaratnya cukup sudah baligh dan mau mengamalkan. Itu pun mengamalkan semampunya, tidak dituntut harus. Tetapi amalkan semampunya,” imbuhnya.

Meski demikian, tuntunan ini mahal dan luar biasa. Jika ikhwan mampu menafikan nafsu keinginan, kepentingan pribadi, dan yang ada hanya ridha Allah sebagaimana doa munajat sebelum dzikir, maka maqam orang ini luar biasa.

Baca juga: Apakah Rasulullah Saw Pernah Melakukan Talqin Secara Berjamaah

Tetapi, selama nafsu diri masih ada, ia akan terhijab. Itu sebabnya dalam tasawuf ada konsep takhalli, yakni penafian diri, yang ada hanya Allah. Tentu hal itu sulit untuk dilakukan, oleh karenanya bergabung ke tarekat sebagaimana dikatakan.

كن مع الله فإن لم تكن مع الله فكن مع من مع الله فإنه يوصلك إلى الله

Jadilah kamu bersama Allah, jika tidak dapat, maka bersamalah dengan orang yang bersama dengan Allah, karena ia yang menyampaikanmu pada Allah Swt.

Yang dimaksud ialah Rasulullah Saw, sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, para awliya. Mudahnya ialah bersama Pangersa Abah Anom.

Oleh karena itu syukuri dan yakin bahwa beliau tetap membimbing kita dengan cara beliau di alam barzakh. Karena seorang wali hanya pindah tempat / alam. Termasuk dalam ijazah mentalqin itu masih beliau.

“Wakil talqin hanya wasilah, bagi yang ditalqin jangan meyakini bahwa yang mentalqin itu wakil talqin. Semua yang mentalqin beliau Guru Agung,” tegas beliau.

Ciri murid ialah yakin terhadap guru Mursyidnya. Setelah yakin ikuti tuntunannya. Jangan hanya yakin. Jangan mereka-reka tuntunan dari Mursyid.

Baca juga: Pangersa Aang Buah Dzikir Itu Mahal

Kalau muncul khususiah juga hati-hati, cukup untuk dirinya sendiri, jangan untuk orang lain. Ini disampaikan sebagai pengamalan Tanbih bahwa kudu arapik tilik jeung pamilih.

Harus ada kewaspadaan diri, ketelitian diri dalam mengambil sikap dan keputusan, termasuk dalam melakukan pengamalan, pengamanan dan pelestarian.

Khususnya pengurus dalam mengambil keputusan, maka semua muaranya harus dalam koridor khidmah. Organisasi di lingkungan Pondok Pesantren Suryalaya ini adalah organisasi khidmah.

“Bukan kepada ketua, penasehat, tapi khidmah kita kepada Guru Agung Pangersa Abah Anom di Suryalaya Tasikmalaya,” pungkas beliau.

Rekomendasi
Komentar
Loading...