Urgensi Halalbihalal dalam Perspektif Agama

Dosa dan kesalahan kepada Allah bisa diselesaikan dengan bertobat. Namun untuk menyelesaikan dosa serta kekeliruan terhadap manusia lebih sulit karena harus mengembalikan hak yang diambilnya atau memperoleh kehalalannya.

Maka dari sini muncul istilah di Indonesia yang lazim dikenal dengan halal bi halal. Sebuah tradisi agar setiap orang bisa saling menghalalkan kesalahan dan kezaliman yang dulu dibuatnya.

Halalbihalal juga menandakan bahwa setiap muslim sudah selayaknya saling memaafkan dan membuka lembaran baru demi hubungan yang harmonis sesama manusia. Karena taqwa yang menjadi tujuan dari berpuasa, salah satu cirinya ialah memaafkan orang lain.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, (Ali Imran: 134).

Dengan kecanggihan teknologi, terlebih di masa pandemi. Tradisi halalbihalal masih bisa dilakukan, salah satunya melalui media sosial. Namun perlu digaris bawahi, bahwa bertobat atau pun halalbihalal mesti dilandasi oleh ketulusan dan keikhlasan, bukan sekadar ikut-ikutan.

Karena keharmonisan yang diperoleh dari kelapangan dada untuk saling memaafkan amat diperlukan. Keharmonisan adalah modal sosial yang paling utama uagar bisa bekerja sama dan bersinergi membangun peradaban. Saling memaafkan akan mengikis kebencian dan permusuhan yang bisa menggeser skala prioritas kita sebagai umat terbaik, bangsa yang besar dan masyarakat yang religius.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi