Sudahkah Kita Berhijrah?

4 hari lagi kita akan kedatangan satu hari yang luar biasa, yang disebut hari ‘Asyura

Kalau fikiran dan hatinya adalah Allah, maka itu yang disebut benar-benar tauhid kepada Allah. Tapi kalau fikiran dan hatinya itu selain Allah, ini disebut musyrik. Kalau ada orang, dari pagi sampai malam, harta saja yang difikirkan, harta ini yang menjadi tuhannya. Atau yang ingin dicari hanya pujian orang, siang malam, fikiran dan hati hanya ingin dinilai baik oleh orang, ini yang menjadi tuhannya. Salah satu cara untuk melihat siapa tuhan yang kita sembah, dengan kita melihat fikiran dan hati ketika ibadah solat, kepada siapa dan apa yang kita ingat ketika solat, maka itulah tuhan kita. Ini yang harus kita waspadai. Berusaha hijrah dari menuhankan duniawi, harta, pangkat, jabatan, kedudukan, penilaian manusia, kepada benar-benar menuhankan hanya kepada Allah.

Sidang jumaat yang dirahmati Allah, hijrah yang kedua, dari sifat munafik menuju sifat sidik, jujur. Apa ciri munafik? Kalau berbicara, dusta, kalau berjanji tidak ditepati, kalau diberi amanah dikhianati, kalau bertengkar, dia menzolimi. Hijrahnya kemana? Hijrahnya menjadi orang yang sidik, orang yang lisan, perbuatan, dan hatinya sama. Kalau munafik tidak sama, berbeza-beza, didepan orang, ramah, sopan, sedangkan dalam hatinya penuh dengan kebencian. Tidak sama antara mulut, sikap dan hati. Mulutnya sangat mudah berbicara baik. Tapi perilaku belum tentu sama dengan percakapan, apatah lagi hatinya belum tentu sama. Dan orang yang sidik itu, pasti sama antara perkataan, perbuatan dan hati dan mereka pasti tidak akan menderita. Kalau orang munafik pasti menderita, kerana hidupnya terus fikir supaya kelihatan bagus, soleh, sabar, dan fikirannya itu hanya demi dinilai orang. Jadi, kalau memang sudah munafik, pasti memiliki kemusyrikan. Jadi, mulai hari ini, mari kita hijrah dari munafik menjadi sidik, percakapan, perbuatan dan hati adalah sama. Itulah sikap baginda nabi saw., dan itulah yang seharusnya kita miliki. Jangan takut kita dihina orang kerana kejujuran, tetapi takutlah kita tergolong menjadi golongan munafik.

Hijrah yang ke-3, dari fasik, iaitu orang yang tahu tapi tidak mengamalkan. Kita belajar, banyak ilmu, tapi kita keliru dengan ilmu, kita merasa soleh dengan ilmu. Jadi, hijrah yang ke-3 ini, hijrah dari tidak hanya sekadar ingin tahu, merasa tahu, atau tahu, tetapi kepada amal. Kerana sabda nabi saw., Allah itu tidak melihat paras rupa kita, tubuh badan kita, tetapi yang dipandang Allah hanya hati dan amal kita.

Kita selalu merasa bangga dengan tahu, bangga dengan gelar yang ada, bangga dengan ceramah, bangga dengan apa yang sudah kita pelajari, tapi tidak mengamalkannya. Itu tidak akan dinilai Allah. Kita selalu sudah merasa amal dengan tahu. Padahal itu belum dinilai Allah. Yang dinilai Allah itu apa yang diamalkan, itu yang akan menjadi penilain Allah. Jadi, mari kita sama hijrahkan diri kita dari yang ingin tahu, merasa tahu, atau tahu, kepada menjadi hamba yang mengamalkan apa yang kita tahu. Sebagaimana sabda nabi saw, Sebaik-baik manusia ialah orang yang panjang umurnya dan senantiasa tambah baik amalnya.

Hijrah ke-4, hijrah dari lingkungan kurang baik kepada yang baik, kerana menurut Rasulullah saw., ini yang sangat menentukan hidup kita. Bergaul dengan tukang besi, kita akan berbau besi, bergaul dengan tukang minyak wangi, maka kita akan berbau wangi. Jadi, kalau lingkungan kita yang rajin ibadah, kita jadi ikut rajin ibadah. Lingkungan penghafal al-quran, kita jadi hafal al-quran. Kalau lingkungan kita membuat lupa ke Allah, berbuat maksiat, harus ada keberanian untuk hijrah. Bukan bererti kita tidak mahu bergaul dengan mereka, tapi kita harus ukur diri, tahap mana kemampuan kita. Kalau di lingkungan itu membuat kita makin berdosa, jauh dari Allah, siapkanlah diri untuk hijirah. Kerana musibah terbesar itu bukan musibah fizikal, tetapi musibah iman. Kalau iman makin runtuh, amal makin rosak, itu bencana paling terbesar dalam hidup kita. Bila iman rosak, maka akan hilang pedoman dalam hidup kita.

Dan yang terakhir, adalah hijrah dari dosa dan maksiat kepada taubat dan ibadah. Harus kuat berusaha, selagimana ada dosa yang kita lakukan, berusaha bersungguh-sungguh untuk taubat dan tinggalkan dosa tersebut. Ada orang yang bangga dengan dosa yang diperbuat, sampai cerita ke sana sini, padahal dosa itu pemusnah kehidupan. Orang yang berdosa, tidak akan mendapat rahmat Allah, tidak akan nampak cahaya kebenaran. Kehidupan akan kucar kacir, porak peranda, musnah segala-galanya. Hilang imannya apatah lagi amalnya. Jadi, hijrah yang terakhir ini adalah hijrah dari dosa dan maksiat menuju jalan kebenaran, taubat dan ibadah kepada Allah swt. Taubat dan ibadah adalah pembuka jalan untuk kita menuju kebenaran dan kembali menjadi hamba Allah yang beriman dan beramal soleh. Jadi, marilah kita hijrah dari dosa dengan perbanyakkan taubat dan ibadah sebagai jalan untuk kita mendapatkan redho Allah swt.

Inilah makna hijrah yang perlu kita terapkan dalam setiap kehidupan kita. Oleh itu, marilah sama-sama kita berusaha berhijrah menjadi seorang hamba yang taat, beriman, bertaqwa, kepada Allah swt. supaya kita sentiasa dirahmati dan diredhoi Allah swt. bahagia dunia dan akhirat.

Dikutip dari khutbah jum’at Ust. Muhammad Najdi Baqir bin Hj. Mohd Zuki (Kedah – Malaysia)


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi