Sembilan Cara Yang Diajarkan Rasulullah Untuk Meluaskan Rezeki

Memang rezeki yang luas bukan menjadi indikator yang pasti kemuliaan seseorang

Ketujuh yakni menghadirkan qalbu fokus dalam beribadah hanya kepada Allah Swt.

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, fokuskanlah untuk beribadah kepadaku niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa cukup dan aku tutupi kefakiranmu, jika kamu tidak mengerjakannya, Aku akan penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutupi kefakiranmu (HR. Tirmidzi).

Selanjutnya yang kedelapan adalah senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. Beliau telah berjanji akan menambah orang yang selalu bersyukur atas nikmat da anugerah-Nya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, [Surah Ibrāhīm: 7].

Baca juga: Tiga Kelompok Yang Tidak Mengalami Kesengsaraan

Bersyukur dilakukan dengan qalbu yang sadar bahwa nikmat dari Allah Swt, memuji Allah dengan lisan, serta mempergunakan nikmat pada hal yang diridhai-Nya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah, sebab syukur adalah pengikat nikmat dan jadi sebab bertambah.

Yang kesembilan ialah berikhtiar menjemput rezeki, tidak malas dan berpangku tangan, apalagi sampai meminta minta belas kasihan orang lain.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung [Surah Al-Jumuʿah: 10].

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tidaklah seorang memakan makanan yang lebih baik dari apa yang ia makan, yang berasal dari hasil usaha tangannya (sendiri). Dan sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya (sendiri) (HR. Bukhari)

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Sungguh, seorang yang bekerja memikul seikat kayu bakar di punggungnya, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, diberi atau ditolak (HR. Bukhari). []


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi