Sabar Itu Tak Ada Batasnya

Itulah kebanyakan manusia, memanjakan nafsu dan rela menjadi budaknya

Pertama, adalah ketika ketika didzolimi kita bersabar, tidak membalas. Tetapi kita berdoa agar Allah memberikan hukuman yang setimpal kepada orang itu. Rasulullah telah menjamin do’a kita akan dikabulkan Allah. “Takutlah engkau pada do’anya orang yang terzalimi. Sebab antara dia dan Allah tak ada hijab”. (HR. Ahmad dan Bukhari).

Di sini, kita sebenarnya masih dicengkram nafsu. Kita masih punya keinginan membalas dendam kepada orang zalim itu, bila perlu dengan yang lebih buruk. Kita menahan diri, tapi meminta Allah membalaskan dendam kita sesuai dengan yang kita kehendaki. Sifat nafsu memang selalu melawan segala hal yang mengganggu kenyamanannya.

Kedua, adalah ketika kita dizalimi kita bersabar dan yakin bahwa Allah Maha Tahu apa yang menimpa kita dan tahu rahasia di balik itu. Untuk itu, kita serahkan perkara itu kepada Allah. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa berserah diri kepada Allah, Dia akan memperhatikannya.” (QS At-Thalaq: 3).

Pada level ini, kita sudah jauh lebih baik dari level pertama. Namun rasa kesal masih tersisa, meski kita sudah mampu meredamnya. Tentang balasan apa yang pantas untuk orang zalim itu, kita serahkan kepada Allah.

Ketiga, adalah ketika kita dizalimi kita tak sedikit pun merasa tersinggung, kesal, marah apalagi ingin membalas. Semua perkara, baik dan buruk, kita serahkan kepada Allah. Perlakuan kasar/zalim orang lain terjadi atas kehendak Allah yang harus dijalani dengan tulus-ikhlas. Pada level ini, qalbu dan akal telah terlepas dari jeratan nafsu.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi