Ini hanya bisa dilakukan dengan pertama-tama kita sadar, bahwa kita selama ini telah menjadi hamba hawa nafsu. Kita telah keliru memberikan cinta kita kepada segala kenyamanan dan keindahan dunia. Kita telah mempersembahkan sebagian besar pikiran, perasaan, waktu, tenaga dan harta kita untuk menuruti semua perintah nafsu dan melalaikan bisikan ruhani untuk taat pada Allah.
Kedua, kita bertaubat, karena taubat adalah awal dari setiap perjalanan ruhani. Kita menyesal dan memohon ampun kepada Allah karena telah menjadi hamba yang lalai dan menjadi abdi nafsu. Lalu kita tancapkan tekad untuk mulai mengalihkan cinta kita kepada Allah dan membebaskan diri dari jeratan nafsu demi menghamba kepada Allah dengan sepenuhnya.
Ketiga, kita mulai mempraktekkan sabar. Ini tentu memakan waktu dan kerja keras. Lebih baik lagi jika kita mendapat bimbingan seorang syaikh/mursyid. Sebab, ibarat kita terlilit seekor ular besar, sementara tubuh kita sedang lemah, kita butuh bantuan orang lain untuk membunuh ular itu. Nafsu pun takkan serta merta melepaskan lilitannya. Semakin kita meronta semakin kuat ia melilit, hingga kita mati terkapar dan dimangsanya.
Puncak sabar adalah terbebasnya qalbu dan akal dari lilitan nafsu. Sebaliknya, qalbu dan akal menjadi lebih kuat dan berbalik mengikat nafsu dan menggiringnya menuju Allah.
Dalam kitab Lataif al-Minan, Syaikh Ibnu ‘Ataillah as-Sakandari memberi kita tuntunan bahwa ada empat level kesabaran, diukur dari seberapa sukses kita melepaskan diri dari nafsu.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

