Sabar Itu Tak Ada Batasnya

Itulah kebanyakan manusia, memanjakan nafsu dan rela menjadi budaknya

Sang murid memberitahunya. Lalu beliau membungkus uang seharga kecapi itu dengan sehelai kain, ditambah dengan sedikit makanan. Lalu beliau mengutus muridnya untuk memberikannya kepada pemuda itu.

“Katakan pada pemuda itu,” Beliau berpesan, “Abu Yazid meminta maaf. Katakan kepadanya, tadi malam engkau memukul kepala Abu Yazid dan kecapimu patah. Dia meminta engkau menerima uang ini sebagai ganti rugi dan belilah kecapi baru. Dan manisan ini untuk menghibur hatimu yang sedih akibat kecapimu rusak.”

Saat pemuda itu menyadari apa yang telah dilakukannya, ia pun pergi mendatangi Syaikh Yazid dan meminta maaf. Ia bertaubat, dan banyak pemuda lain juga ikut bertaubat dengannya.

Hikmah

Kisah ini memberikan pengajaran bahwa sabar itu tak berbatas. Berbeda dengan apa yang umumnya dipahami, bahwa sabar itu selalu ada batasnya. Artinya, pada batas tertentu, setelah menahan sakit atau derita, wajar bila kita marah, mengeluh atau balas dendam. Tapi benarkah demikian dalam Islam?

Sabar memang berat. Rasulullah SAW menyatakan, “Sesungguhnya sabar adalah pukulan yang terberat.” (HR. Bukhari)

Tapi seberat apapun, sabar adalah bagian dari iman. Siapapun yang mengaku beriman kepada Allah, ia wajib memiliki sifat sabar. Iman tanpa sabar ibarat badan tanpa kepala. Sebab sabar adalah level tertinggi dalam keimanan. Sayyidina Ali KW berkata, “Posisi sabar dalam keimanan adalah seperti posisi kepala pada tubuh.”


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi