Pendidikan Karakter Berbasis Tasawuf Tuntunan Syekh Mursyid
Cara mendidik itu harus menggunakan metode yang penuh hikmah dan bijaksana
Beberapa ikhwan yang berlatarbelakang ahli hukum sepakat membawa kasus ini ke pengadilan. Menuntut majalah mingguan tersebut karena telah melakukan pencemaran nama baik.
Selanjutnya, beberapa orang ikwan TQN PPS yang ahli di bidang hukum, sepakat mengajukan tuntutan ke pengadilan bahwa majalah Tempo telah melakukan pencemaran nama baik.
Para ahli hukum itu pun berkumpul lalu menghadap ke Pangersa Abah Anom menyampaikan maksud dan tujuannya serta memohon doa dan restu dari beliau. Harapannya, Pangersa Abah akan merestuinya.
Mereka menjelaskan panjang lebar duduk perkara dan Pangersa Abah menyimaknya. Seusai penyampaian, diluar dugaan beliau tidak merestui. Dengan bahasa yang bijak Pangersa Abah mengatakan, “Tugas kita bukan untuk menghukum yang salah. Namun bagaimana menuntun dan meluruskan yang salah sehingga menjadi benar, berada di jalan yang diridhai Allah (swt).”

Apa yang menarik dari penggalan cerita di atas? Mengapa Pangersa Abah bersikap demikian? Mengapa Pangersa Abah tidak membalas orang yang menyalahkan bahkan menghinanya? Mengapa beliau bersikap diam lalu hanya meluruskannya dengan memberikan nasihat yang bijak?
Pertama, ada pelajaran penting yang bisa kita petik dari Tanbih, Wasiat Guru Agung Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad, “Kudu ditungtun dituyun ku nasehat nu lemah lembut nu matak nimbulkeun nurut bisa napak dina kalan kahadean… ulah sina ngarasa reuwas jeung giras rasa kapapas mamaras.”
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

