Nilai Pedagogik dalam Mesin Jahit, Refleksi Zikir Jahar dan Khafi
Metafora mesin jahit mengajarkan keterhubungan zikir jahar dan khafi dalam membentuk kehidupan
Ada banyak cara untuk belajar tentang kehidupan. Kita dapat belajar dari buku, guru, pengalaman, alam, bahkan dari benda-benda sederhana yang setiap hari berada di sekitar kita. Salah satunya adalah mesin jahit. Bagi sebagian orang, mesin jahit mungkin hanya dipandang sebagai alat untuk menyatukan potongan-potongan kain menjadi pakaian. Namun, jika direnungkan lebih jauh, mekanisme sederhana sebuah mesin jahit ternyata menyimpan nilai pedagogik yang sangat menarik.
Mesin jahit mengajarkan tentang keterhubungan, keseimbangan, kesabaran, ketelitian, dan kerja sama. Di dalam proses menjahit terdapat dua benang yang memiliki fungsi berbeda, yaitu benang bagian atas dan benang bagian bawah atau yang dalam istilah tertentu dikenal sebagai sakoaci. Kedua benang tersebut tidak bekerja sendiri-sendiri. Keduanya harus tersedia, bergerak, dan bertemu dalam mekanisme yang tepat. Apabila hanya satu benang yang bekerja, proses menjahit tidak akan menghasilkan jahitan sebagaimana yang diharapkan.
Analogi sederhana ini menjadi menarik ketika dikaitkan dengan kehidupan spiritual manusia. Dalam konteks amaliah Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya, dikenal praktik zikir jahar dan zikir khafi. Zikir jahar dilakukan dengan melafalkan zikir Laailaahaillah secara lisan, sedangkan zikir khafi merupakan zikir yang dilakukan secara batiniah, yaitu mengingat Allah dalam hati.
Dua bentuk zikir tersebut memiliki karakter yang berbeda, tetapi dapat dipahami sebagai dua dimensi yang saling melengkapi. Jika mesin jahit membutuhkan benang atas dan benang bawah untuk menghasilkan jahitan, maka kehidupan spiritual juga membutuhkan keterhubungan antara aktivitas lahiriah dan kesadaran batiniah.
Mesin Jahit sebagai Metafora Pendidikan
Pedagogik pada dasarnya berkaitan dengan proses pendidikan dan pembentukan manusia. Pendidikan tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, kebiasaan, karakter, dan kualitas kepribadian. Dalam pengertian yang lebih luas, segala sesuatu yang memberikan pelajaran dan membentuk kesadaran manusia dapat menjadi sumber pembelajaran.
Dalam perspektif ini, mesin jahit dapat dipandang sebagai media refleksi pedagogik. Ia mengajarkan sebuah prinsip sederhana: hasil yang baik membutuhkan keterpaduan berbagai unsur yang menjalankan fungsi masing-masing secara harmonis. Benang atas memiliki fungsi tertentu, demikian pula benang bawah. Keduanya tidak harus memiliki fungsi yang sama. Justru karena memiliki fungsi yang berbeda, keduanya dapat menghasilkan satu kesatuan berupa jahitan. Perbedaan fungsi tidak menjadi penghalang untuk mencapai tujuan bersama.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

