Mengamalkan Ratibul Haddad, Apakah Menambah Amaliah TQN?
Amalkan Ratib al-Haddad boleh asal tidak dicampur amaliah TQN dan wadzifah tetap dijalankan
Sebagai ikhwan akhwat TQN Pontren Suryalaya, apakah boleh kita mengamalkan Ratib al Hadad dan wiridan lainnya, bagaimana caranya? Demikian pertanyaan yang diajukan dalam tanya jawab amaliah dalam majelis dzikir SAEPI.
H. Andhika Darmawan menyampaikan, bahwa ikhwan akhwat TQN diperkenankan mengamalkan Ratibul Haddad dengan catatan setelah menuntaskan wadzifah (tugas amaliah) TQN yakni dzikir harian atau dzikir khataman.
“Silahkan diatur di waktu senggang, yang penting jangan disisipkan dan dicampurkan dengan amaliah TQN,” pungkasnya.
Baca juga: Amaliah Dzikir Belum Selesai Karena Ada Keperluan Apakah Mesti Mengulang Dari Awal
Pertanyaan lain yang muncul dalam sesi ini ialah apa yang dimaksud dengan tidak menambah dan mengurangi amaliah, sebagaimana yang dimaksud dalam salah satu maklumat Pangersa Abah? Mohon diberi contoh hal tersebut?
Ustadz Andhika kemudian memberi contoh seperti apa yang dimaksud dengan menambahkan amaliah. Misalnya dalam tawassul menambahkan nama-nama sisipan.
“Misalnya pada Al Fatihah kelima menambahkan nama figur idolanya setelah Pangersa Abah, atau menambahkan nama almarhum orang tua pada Al Fatihah ketujuh,” tuturnya.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

