Kiai Wahfiudin: Pentingnya Wali Mursyid Dalam Berthariqah
Berikut penjelasan yang disampaikan oleh Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya dari Jakarta
Selalu ingat prinsip ojo gumunan, dan jangan mencampur-campur ajaran TQN yang sudah diterima dari Pangersa Abah Anom dengan amaliah-amaliah lain.
Ada yang bilang, dalam dzikir ikuti naluri. Naluri itu bagian dari diri.
Menurut KBBI, naluri adalah dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu; insting.
Bentuk paling dasar dari naluri adalah hawa, maka disebut hawa nafsu (naluri diri). Ibadah yang dilakukan seperti itu berarti fokusnya masih ke diri sendiri (anthropocentric), bukan ke Allah (Allahcentric/Tawhid).
Puncak ketawhidan adalah tawakkul, pasrah, berserah diri dalam keadaan nothingness, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Fana’ Fillāh.
“Permainan spiritualitas” dapat menyebabkan orang terpeleset, tujuannya adalah diri menjadi sakti, kaya tanpa bekerja, berkuasa tanpa ilmu dan masyhur tanpa jujur.” []
(KH. Wahfiudin Sakam, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya, Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat).
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

