Jangan Berburu Karamah
Kata-kata ini terasa menusuk di hati sang guru, tapi beliau tetap berusaha tenang
Sayyidah Rabi’ah kemudian menghamparkan sajadahnya di udara dan terbang di atasnya.
“Ayo. Naiklah kemari Syaikh. Agar orang-orang dapat melihat kita!” pekiknya. Syaikh Hasan, yang belum mencapai maqam itu pun terdiam. Sayyidah Rabi’ah pun menghampirinya berusaha menghibur.
“Guru,” katanya, “Apa yang Anda lakukan juga dapat dilakukan seekor ikan. Dan apa yang aku lakukan juga mampu dilakukan seekor lalat. Itu semua bukan urusan hakiki. Kita harus fokus mengurusi hal yang hakiki.”
Hikmah
Orang yang menempuh perjalanan ruhani, berkat kesungguhannya, akan dianugerahi Allah karamah, kemampuan ruhani yang melampaui batas-batas kewajaran. Menurut Imam Abu Ishaq al-Asfarayani mengatakan, karamah adalah sinyal atau pertanda kebenaran tingkat ruhani seorang salik. Pada tingkat yang lebih tinggi, kemampuan ruhani ini dianugerahi Allah kepada para rasul yang disebut mu’jizat, sebagai tanda kebenaran risalahnya.
Tetapi bagi para salik sendiri, karomah sesungguhnya adalah cobaan, seperti halnya anugerah-anugerah Allah yang lain, baik yang menyenangkan seperti kekayaan, jabatan tinggi, kecantikan/ketampanan dan popularitas, maupun yang menyengsarakan seperti kemiskinan, musibah dan kebangkrutan. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Anbiya: 35, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.”
Apakah karamah itu menjadikannya lebih fokus kepada Allah atau sebaliknya berbalik melihat diri sendiri; apakah karamah itu membuatnya semakin merasa rendah, hina, lemah di hadapan Allah atau sebaliknya membuatnya merasa tinggi, mulia di hadapan-Nya.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

