Istiqamah Terhadap Kemursyidan (Bagian 2)
Istiqamah, teguh setia pada mursyid, amalan TQN, dan lembaga Pontren Suryalaya
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al-Baqarah: 154)
Seorang Wali Quthub, pendiri Tarekat Haddadiyah, Habib Abdullah ‘Alawi Al-Haddad ra dalam kitab Adabu Suluki Al-Murid (hlm. 43) berkata; “Terkadang seorang murid menyangka bahwa ia tidak memiliki Mursyid atau Syekh, maka ia mencari Syekh, padahal ia mempunyai Syekh yang tak dapat dilihatnya, yang membimbing dan menjaganya dengan memberikan bantuan, sementara murid itu sendiri tidak merasakannya.”
Baca juga: Guru Mursyid Ibarat Dokter yang Mengobati Penyakit Qalbu
Dalam Kitab Jaami’ al-Ushuul Fi al-Auliyaa’ halaman 7 dijelaskan “Ketahuilah bahwa setiap wali itu memiliki keistimewaan dan kemampuan berbuat sesuatu saat masih hidup dan sesudah mati.”
Misalnya kemampuan yang dimiliki oleh Syekh Muhammad Baha’uddin, guru Tarekat Naqsyabandiyah dalam mengajarkan hakikat dan larut dalam sifat-sifat ketuhanan. Kemampuan berbuat dan memberikan pertolongan yang dimiliki oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qs, serta kemampuan menyampaikan ilmu dan wirid yang dimiliki oleh Syekh Abu al Hasan al-Syadzili.
Dalam manqabah ke 35 misalnya, Syekh Ahmad Kanji menjadi muridnya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani qs karena petunjuk gurunya. Pada saat beliau tidur, beliau didatangi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qs dan menyerahkan mahkota merah dan sorban hijau kepada Syekh Ahmad Kanji. Ini bukti bahwa walaupun secara fisik seorang wali telah tiada tetapi beliau masih hidup secara ruhani dan setia membimbing murid-muridnya.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

