Imam Syarqawi, Syekhul Azhar Faqih nan Sufi

Bagi penikmat fiqih pasti tak asing dengan sosok yang satu ini, beliau adalah Imam Abdullah Asy Syarqawi (w. 1227 H). Beliau merupakan Grand Syekh al Azhar pada zamannya. Asy’ari dalam aqidah, bermadzhab Syafi’i dalam fiqih dan bertarekat Khalwatiyah.

Beliau adalah jalur ke lima dari silsilah keilmuan (sanad) Maulana Syeikh Abdul Aziz Asyahawi. Dilahirkan di timur, daerah Bilbis, Kegubernuran Syarqiyah, bagian utara Mesir.

Imam Syarqawi kecil seperti halnya ulama-ulama al Azhar lainnya, menghafal al Qur’an sebelum mencari ilmu. Berawal kepada gurunya di sebuah kuttab yang sederhana di desanya, setelah itu melanjutkan menuntut ilmu di Masjid al Azhar. Di sini beliau berguru kepada beberapa guru, di antaranya Imam Ahmad al Malawi, Imam Ahmad al Jauhari dan Imam al Hifni.

Baca juga: Imam Sahl Tustari Sufi yang Matang Secara Ilmu dan Ruhani

Banyak karangan yang telah beliau lahirkan, di antaranya dalam fiqih ada Hasiyah Syarqawi dan juga Syarh dari Nadzam Imriti (Nihayah Tadrib), juga dalam Aqidah Hasiyah Syarqawi terhadap al Hudhudi.

Dalam tasawuf Imam Syarqawi menulis Syarh Hikam ‘Athaiyyah. Dalam hadits beliau mengarang Fath al Mubdi Syarh Mukhtasar Azzabidi, juga Syarh Mukhtasar Syamail Muhammadiyah, dan seterusnya.

Dalam karangan-karangan beliau terlihat bahwasannya beliau adalah seorang alim nan sufi. Salah satunya dalam penjelasan beliau terhadap salah satu hadist dalam kitab Mukhtasar Syamail, ketika Allah membangkitkan ayah dari salah seorang sahabat mulia dan juga rawi hadist yaitu Sayyiduna Jabir bin Abdullah.

Baca juga: Asal Muasal Gelar Shahibul Wafa

Ayahnya (Abdullah bin Amr bin Haram al Anshari) adalah salah satu syuhada’ Uhud, diriwayatkan oleh Sahabat Jabir bin Abdullah dalam sebuah hadist di sunan Tirmidzi:

“Suatu Hari Rasulullah Saw menemuiku lalu berkata: “Ada apa gerangan, kenapa aku melihatmu bersedih?”

Lalu Jabir menjawab: “Wahai Rasulullah, ayahku telah syahid dalam perang uhud, dan meninggalkan keluarga dan juga hutang.”

Kemudian Rasulullah berkata sembari menghiburnya: “Apakah kamu tidak ingin aku berikan kabar gembira?”

Jawab Jabir: “Tentu saja mau wahai Rasulullah”.

Lalu Rasulullah bercerita kepadanya: “Allah telah menawari kepada ayahmu apa yang ia mau, lalu ia menjawab: Aku ingin dihidupkan kedua kalinya, dan ingin syahid lagi di jalan-Mu.”

Dalam untaian hadist ini, Syekh Syarqawi menjelaskan ini adalah tingkatan yang lebih tinggi dari derajat pasrahnya seorang sufi besar Abu Yazid al Bastami, sebagaimana dikenal masyhur perkataannya:

” أريد أن لا أريد “

Dari sekilas penjelasan hadist di atas kita dapat melihat, bagaimana Imam Syarqawi menggabungkan penjelasan hadits disajikan dengan keindahan tasawuf.

Baca juga: Wakaf Danai 300 Ribu Mahasiswa Universitas al Azhar

Begitu juga yang selalu kami dengarkan dari Guru mulia Maulana Syeikh Abdul Aziz Syahawi ketika menjelaskan fiqih, tidak pernah bosan beliau juga membubuhkan pemahaman tasawuf di dalamnya agar hati tidak keras, tidak selalu memandang tidak sah ibadah yang tidak sesuai dengan fiqih mazhab, begitulah yang beliau ajarkan.

Hasiyah Syarqawi ala Tahrir dalam fiqih merupakan salah satu hasiyah yang paling beliau cintai, banyak ibarat beliau dalam menjelaskan fiqih merupakan intisari dari pemahaman beliau dari hasiyah ini. Dan juga beliau selalu bertawasul dengan Imam Syarqawi dalam doa-doanya:

وبِبَابِ الهُدَى الشَّرْقَاوِي خيرِ امرئٍ سَرَى # لخَالقِه حتَّى رَأَى مَشْهَدَ الهَنَا

Penulis: Ade Rizal Kuncoro

Rekomendasi