Idul Adha, Tasyriq dan Kurban
Idul Adha dan Idul Fitri adalah penanda dari ketaatan yang telah khatam dan lengkap
Takbiran bisa dilakukan sendiri-sendiri maupun bareng-bareng, berjamaah. Hukumnya sunah. Seperti yang dilakukan Rasulullah bersama para sahabat sepanjang perjalanan menuju tempat shalat id. Dengan suara keras, Rasulullah membaca takbir-tahlil bersama Fadhl bin Abbas, Abdullah bin Abbas, al-Abbas, Ali, Ja’far, al-Hasan, al-Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman. Sebagaimana dalam Shahih Ibnu Khuzaimah.
Suatu saat, di Mina, Umar bin Khathab takbiran di dalam tendanya dan didengar oleh orang-orang yang sedang di masjid. Mereka pun ikut takbiran. Takbiran mereka terdengar oleh orang-orang di pasar. Orang-orang pasar pun ikut takbiran. Sampai-sampai Mina bergemuruh oleh takbiran. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari.
Hari Tasyriq
“Hari Tasyriq” biasa diartikan tiga hari setelah Idul Adha. Tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Baca juga: Memaknai Takbir di Hari Raya IdulFitri
Kenapa disebut “tasyriq”? Dari mana kata itu diambil untuk kemudian dijadikan istilah khusus?
Dalam “Fath al-Bari”, Ibnu Hajar mengutip pendapat-pendapat tentang asal-usul nama “Hari Tasyriq”. Di antaranya,
Kata “tasyriq” artinya “memotong-motong daging dan menjemurnya”. Sebab, pada Hari Tasyriq, orang-orang mendapatkan daging kurban, memotong-motongnya, dan menjemurnya.
Orang Indonesia, menyebutnya “dendeng”.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

