Hari Santri 2025, Meneladani Abah Anom, Santri Sepanjang Hayat
Santri sejati adalah berilmu, berdzikir, berakhlak, dan mengabdi untuk agama dan bangsa
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari harta dan kedudukan, tetapi dari iman dan ilmu. Dan ciri orang beriman, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, adalah mereka yang banyak berdzikir kepada Allah.
Dzikir inilah yang menjadi ciri khas Pondok Pesantren Suryalaya, ajaran yang diwariskan oleh Abah Anom melalui Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) — sebuah jalan yang memadukan ilmu, amal, dan dzikir.
Abah Anom adalah teladan sejati dalam semangat mencari ilmu. Sejak kecil, beliau menunjukkan semangat belajar luar biasa. Setelah menempuh pendidikan dasar di Ciamis, beliau berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya: Cicariang, Jambudipa, Gentur, Cireungas, hingga Citengah Panjalu.
Di setiap tempat, beliau memperdalam fiqih, nahwu, sharaf, balaghah, hingga tasawuf, berguru kepada para ulama besar dan menimba pengalaman tentang adab dan kepemimpinan.
Baca juga: Mengapa Rasulullah Dinamai Berakhlak Agung?
Setelah menuntut ilmu di berbagai pesantren, Abah Anom menunaikan ibadah haji dan bermukim di Mekkah selama tujuh bulan. Di sana beliau memperdalam tafsir, hadis, fiqih, kalam, dan tasawuf. Namun yang paling mengesankan, semakin tinggi ilmu beliau, semakin halus akhlaknya. Inilah pelajaran penting bagi kita semua: ilmu sejati melahirkan kerendahan hati, kasih sayang, dan kelembutan.
Dari perjalanan panjang menuntut ilmu itu, Abah Anom tidak hanya menjadi ulama berilmu luas, tetapi juga pendidik yang paripurna. Dalam diri beliau, empat aspek pendidikan Islam berpadu dengan sempurna:
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

