Esensi Puasa, Menguatkan Ruh Keimanan dan Muraqabah
Perintah puasa diawali oleh panggilan yang disifati dengan keimanan
Mereka yang mengambil keuntungan dari kemaslahatan kaum muslimin dengan meminta bantuan yang mengatasnamakan harta Allah padahal untuk kepentingan, hasrat dan syahwat pribadi dinilai pula tidak puasa. Begitu juga mereka yang menyakiti hamba Allah atau melanggar larangan Allah tiada puasa baginya.
Orang yang berpuasa, kata Syekhul Azhar tersebut, laksana malaikat dalam bentuk manusia, dia tidak berdusta, tidak melakukan kejahatan, tidak menipu, tidak memakan harta orang lain secara batil. Inilah makna puasa yang tidak sekadar menahan dari hal yang membatalkannya.
Esensi puasa ialah menguatkan ruh keimanan dengan senantiasa merasa diawasi-Nya (muraqabah). Dengan hal ini, orang yang berpuasa bisa menggabungkan antara puasanya dengan pembersihan dan penyucian dirinya dari kotoran dan noda, mengisi serta menyucikannya dengan hal-hal yang baik. Sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah Saw.
Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya. (HR. Bukhari)
Berapa banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan dari puasanya rasa lapar, dan berapa banyak orang yang melakukan qiyamullail hanya mendapatkan dari qiyam-nya begadang saja. (HR. Ahmad)
Serta firman Allah Swt,
Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. [Surah Al-Māʾidah: 27]
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

