Empat Masjid Terapung Ikonik Yang Patut Dikunjungi

Masjid sejak semula bukan hanya dijadikan sebagai tempat beribadah, tetapi juga difungsikan sebagai pusat kegiatan untuk membangun peradaban umat.

Masjid dijadikan ruang untuk menggelar atau menginisiasi kegiatan pendidikan, sosial, budaya, kesehatan, ekonomi dan lainnya. Data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama RI menyebutkan jumlah masjid dan mushala di Indonesia sebanyak 741.991.

Dari jumlah tersebut dikenal ada masjid negara, masjid raya, masjid agung, masjid besar, masjid jami belum lagi masjid atau mushalla di perumahan, tempat publik, perkantoran, maupun di lembaga pendidikan.

Baca juga: Sejarah Singkat Masjid Baitul Akhfa yang Diresmikan Abah Anom

Selain sebagai tempat untuk menyebarkan nilai-nilai etis, masjid juga punya nilai estetis. Sehingga banyak masjid di Indonesia kini juga dijadikan sebagai objek wisata religi. Mulai dari bangunan masjid yang usianya ratusan tahun hingga masjid yang punya desain arsitektur unik, di antaranya masjid yang dibangun di atas perairan.

Dikutip dari goodnews, berikut ini masjid-masjid yang layak untuk dikunjungi karena unik terapung di atas air dan bisa sambil menikmati sajian pemandangan laut:

Masjid Al-Munawwar

Masjid yang berarti bersinar ini sudah menjadi ikon Ternate. Masjid yang dibangun di pesisir Pantai Ternate pada tahun 2003 ini mampu menampung hingga 15 ribu jamaah.

Masjid Al Munawwar

Luasnya sekitar 9.512 meter persegi. Pada sudut-sudut masjidnya, ada empat buah menara setinggi 44 meter yang dua di antaranya dibangun dari dasar laut.

Uniknya masjid dua tingkat ini menggunakan keramik dan lampu yang berasal dari Turki. Terdapat 12 pilar yang merujuk pada tanggal lahir Nabi Muhammad Saw.

Baca juga: Masjid Beradaptasi Masjid Bertransformasi

Keunikan lain, masjid ini memiliki empat pilar utama yang menjadi simbol dari empat sahabat dari Rasul dan melambangkan empat kesultanan yang ada di Maluku Utara, yaitu Kesultanan Jailolo, Kesultanan Bacan, Kesultanan Ternate, dan Kesultanan Tidore.

Masjid Oesman Al Khair

Masjid terapung ini berlokasi di Kota Karang, Kelurahan Sutra, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Masjid ini dibangun di atas laut, dengan tiang pancang 23 meter.

Masjid Al-Khair

Masjid ini tergolong megah. dengan luas 2500 meter persegi, kapasitas masjid ini bisa menampung sampai 5 ribu jamaah.

Desain bangunannya terinspirasi dari arsitektur masjid di Arab Saudi dan dipadukan dengan gaya masjid khas Maroko. Masjid ini memiliki sembilan kubah dan empat menara di sekelilingnya.

Keunikan lainnya, terdapat kaligrafi di dinding masjidnya yang didesain langsung oleh Imam Masjid Agung Yogyakarta.

Masjid Amahami

Masjid ini berlokasi di Jalan Sultan Muhamad Salahuddin, Belo, Bima, Nusa Tenggara Barat. Selain berdesain unik, masjid ini bermakna bagi masyarakat Bima.

Masjid Amahami.

Masyarakat Bima dikenal dengan filosofi kepemimpinan Nggusu Waru dan Uma Lengge. Kedua unsur tersebut kemudian diwujudkan dalam rancangan dasar masjid terapung yang dipadukan dengan desain bintang Al-Quds yang terkenal dalam ajaran Islam.

Baca juga: Waktunya Kampanyekan Lingkungan Melalui Mimbar Masjid dan Mimbar Digital

Kemudian pada kisi-kisi masjid ditambahkan ornamen bunga satako khas Bima yang artinya bunga setangkai. Filosofi dari bunga satako sendiri adalah seseorang harus bisa menebar kebaikan kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya layaknya bunga yang menebarkan aroma harum ke sekelilingnya.

Masjid Amirul Mukminin

Masjid terapung ini lokasinya ada di kawasan wisata Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid 99 Al Makazzary, merupakan perpaduan jumlah Asmaul Husna dan nama Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Yusuf al Makassary yang juga tokoh tarekat.

Masjid Amirul Mukminin.

Dengan luas 1.648 meter, masjid tiga lantai ini bisa menampung jamaah hingga 500 orang. Masjid ini dibangun dengan konsep modern kontemporer minimalis dengan kombinasi warna putih, abu-abu, dan ornamen berwarna biru.

Masjid ini terdiri dari tiga lantai, lantai dasar untuk laki-laki, lantai dua untuk perempuan, dan lantai paling atas untuk shalat sunah sendirian.

Masjid yang dibangun tahun 2009-2012 ini tampak kokoh karena dibangun dengan 164 tiang pancang di bawahnya. Berdiri di atas tumpukan beton yang menjorok ke arah laut dan bangunannya serupa rumah adat Sulawesi Selatan.

Rekomendasi