Dzikir di Antara Pahala dan Dosa

Dzikir menyatukan alam dan jiwa, kunci ketenangan hati dan pengabdian ikhlas pada Allah

Jadi, hakikat ibadah adalah dzikrullah, karenanya menunaikan shalat adalah dzikir, menunaikan zakat adalah dzikir, melaksanakan puasa adalah dzikir, melaksanakan ibadah haji adalah dzikir, ber-tafaqquh (mendalami) ilmu agama pada takaran dharuriy (wajib minimal) adalah dzikir, memberi fatwa berkenaan dengan hukum-hukum Allah adalah dzikir, membaca Al-Qur’an yang mulia adalah dzikir, menyuruh orang-orang berbuat baik dan mencegah mereka berbuat kemunkaran adalah dzikir.

Kalau tujuan dzikir merupakan landasan seluruh bentuk dan sifat ibadah jasmani-ruhani, variasi tatalaksana kehidupan makhluk (manusia) lahir dan batinnya, namun mengapa tidak sesuai kenyataan dalam pola hidup keseharian?

Allah SWT berfirman: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS Al-Maa’uun / 107 : 4-5).

Rasululllah SAW bersabda: “Berapa banyak orang yang menegakkan shalat, (keuntungan yang diperoleh dari shalatnya) hanyalah capek dan payahnya saja.” (HR Ibnu Majah).

Pengertian kata “pahala dan dosa’ telah terpatri dalam pikiran umat yang mengarah pada situasi kehidupan di alam akhirat antara sangat menyenangkan (pahala – surga) atau sangat mengerikan (dosa – neraka) sebagai bonus kualitas perilaku kehidupan di alam dunia.

Jika bersedekah, berinfak, bangun tidur di malam hari untuk melaksanakan shalat malam, puasa sunah dan lainnya (perintah dan anjuran ajaran agama) sudah dipastikan dalam kategori amal yang baik.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi