Dua Kunci Menuju Umat Pertengahan

Umat Islam disebut al Qur’an sebagai ummatan washata atau umat pertengahan. Untuk menjadi washat bukan hal yang mudah, tapi bukan juga mustahil untuk diwujudkan.

Ummatan washata adalah umat terbaik (khairu ummah). Ajaran Islam dan tuntunannya menjadikan umat idealnya berada pada posisi tengah. Posisi tengah adalah posisi yang menjadi pusat perhatian.

Ummatan washata adalah umat yang menjadi teladan bagi umat-umat lain. Agama mengarahkan umat Islam agar menjadi contoh dengan cara meneladani nabi Muhammad Saw. Jadi umat Islam meneladani Nabi, kemudian umat lain meneladani umat Islam.

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Al Baqarah: 143).

Dengan kalimat lain, kunci menjadi ummatan washata yang pertama ialah keteladanan yang bersumber dari nabi Muhammad Saw. Beliau sosok pribadi yang agung dan mulia, yang ketokohan serta kiprah dan perjuangannya dinilai sebagai yang terbaik sepanjang masa.

Maka agar generasi masa kini dan mendatang meneladani Nabi Muhammad Saw, perlu ditanamkan kecintaan kepada beliau. Cinta pada nabi Muhammad Saw adalah mutlak. Tanpa kecintaan, sulit muncul keteladanan. Orang yang mencintai lebih mudah untuk meneladani orang yang dicintainya. Dan karena cintanya itu, dia bersedia untuk menjadi teladan bagi orang lain di sekitarnya.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sampai aku (yakni Nabi Muhammad Saw) lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia (HR. Bukhari).

Kunci kedua menjadi umat pertengahan ialah dengan selalu menjaga keseimbangan dalam segala hal, baik menyangkut persoalan hidup duniawi maupun ukhrawi. Bagaimana misalnya menjaga keseimbangan antara jasad dan ruh, dunia dan akhirat, agama dan negara, individu dan masyarakat, ide dan realitas, akal dan naql (teks keagamaan), termasuk keseimbangan alam, sosial dan keseimbangan diri serta lain sebagainya.

Menjaga keseimbangan ini tentu tidak mudah perlu upaya untuk selalu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Perlu ilmu pengetahuan, mampu mengendalikan diri dan emosi, serta selalu berhati-hati dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Kata washat maknanya adil, baik, tengah, seimbang. Umat pertengahan tidak melampaui batas ifrath (berlebih-lebihan dalam agama) dan tafrith (mengurangi ajaran agama).

Umat pertengahan (ummatan washata) menjadi umat pilihan yang terbaik karena mampu bersikap adil dan seimbang dalam setiap aspek. Dan itu memerlukan kesadaran yang prima. Dalam Islam upaya untuk selalu sadar ialah dengan dzikrullah. Dzikrullah menjadi elemen penting untuk menjaga keseimbangan, agar tidak tergelincir karena kelalaian, hawa nafsu yang diperturutkan atau karena terbujuk rayuan dan tipu daya setan.

Rekomendasi