Daya Rusak Seorang Yang Bukan Mursyid Lebih Besar

Dalam sebuah tarekat sufi hanya ada dua unsur yakni Guru Mursyid dan Murid

Dalam sebuah tarekat sufi hanya ada dua unsur yakni Guru Mursyid dan Murid, tidak ada unsur lain di antara keduanya, termasuk wakil talqin, sebab wakil talqin hanya membantu atau memfasilitasi terjadinya talqin dzikir, itu pun berdasarkan izin dan tugas dari seorang Guru Mursyid.

Kedudukan Mursyid dalam sebuah tarekat adalah inti dari tarekat itu sendiri. Beliau lah yang memberikan bimbingan kepada murid, atas izin dari gurunya yang terus bersambung sanadnya sampai Rasulullah Saw. Karena itu dinilai tidak sah memberikan ijazah atau talqin hanya berdasarkan klaim sendiri atau sepihak tanpa izin dari guru sebelumnya.

Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi, dalam kitabnya Tanwirul Qulub fi Mu’amalati ‘Allamil Ghuyub menyebutkan bagaimana seorang Mursyid yang sah dijadikan guru.

من أهل زمانه يكون مترقياً في مقامات الرجال الكمّل شرعياً حقيقياً ، سلوكه على الكتاب والسنة والاقتداء بالعلماء تم سيره إلى الله وسلوكه على يد مرشد واصل إلى تلك المقامات العلية مسلسلا إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، مأذونا له من شيخه بالإرشاد والدلالة على الله تعالى، لا عن جهل ولا عن حظ نفس

(Mursyid) merupakan seorang ahli di zamannya yang telah mencapai derajat Ar Rijal Al Kummal, seorang yang sudah sempurna dalam ilmu syari’at dan hakikat, yang suluknya sesuai Al Qur’an dan sunnah, serta meneladani para ulama. Beliau sudah sempurna perjalanan dan suluknya menuju Allah Swt, di bawah bimbingan seorang Mursyid yang telah sampai pada kedudukan yang tinggi, yang musalsal (bersambung) kepada Nabi Muhammad Saw. Seorang Mursyid juga telah mendapatkan izin dari gurunya untuk memberikan Irsyad (bimbingan, menyampaikan talqin dzikir serta suluk), dan menunjukkan serta mengantarkan murid menuju Allah Swt, (itu semua) bukan atas dasar kebodohan, bukan pula atas dorongan diri (nafsu).

Baca juga: Bimbingan Syekh Mursyid Sampai Muridnya di Alam Kubur

Syekh Amin Kurdi lalu menjelaskan bahwa seorang Murysid yang arif dan telah wushul atau sampai pada Allah adalah wasilah bagi seorang murid menuju Allah Swt. Mursyid adalah pintu yang harus dilalui murid untuk sampai pada Allah. Siapa yang tidak memiliki guru (Syekh) yang membimbingnya maka Mursyidnya adalah setan.

Tidak boleh sembarang orang menjadi Mursyid. Sehingga tidak seorang pun boleh membaiat/mengambil janji/memberikan talqin dzikir kepada para murid dan memberikan bimbingan (Irsyad) tanpa izin dari guru Mursyid di atasnya yang berhak serta mempunyai silsilah yang benar sampai Rasulullah. Jika murid di tangan orang yang tidak memiliki kapasitas sebagai Mursyid, maka daya rusaknya lebih besar dari pada melakukan perbaikan kepada muridnya. Sebagaimana dijelaskan Syekh Amin Kurdi sebagai berikut,

لا يجوز التصدر لأخذ العهد على المريدين وإرشادهم إلا بعد التربية ، والإذن كما قالت الأئمة رحمهم الله تعالى إذ لا يخفى أن من تصدر لذلك وهو غير أهل له فما يفسده أكثر مما يصلحه وعليه إثم قاطع الطريق ، فهو بمعزل عن رتبة المريدين الصادقين فضلا عن المشايخ العارفين

Seseorang tidak boleh mengambil janji atas para murid dan melakukan irsyad (bimbingan) dzikir kepada orang lain kecuali setelah memperoleh tarbiyah (pendidikan). Dan adapun izin (dari guru sebelumnya) sebagaimana disampaikan oleh para imam rahimahumullah ta’la, kalau begitu, tidak samar lagi, bahwa orang yang tidak memenuhi syarat untuk itu (yakni tidak berijazah, tidak memiliki izin dan tidak berkapasitas) maka dia lebih banyak merusak muridnya daripada memperbaikinya dan baginya dosa begal (qathi’ut thariq) karena ia telah mencerai-beraikan para murid yang benar (shadiqin) dan terlepas jauh dari para Syekh yang arif (Masyayikh Arifin). []


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
______
Rekomendasi