Benarkah Gerakan dalam Dzikir Terlarang? Ini Dalilnya!
Nabi tidak mengingkari dan mencela apa yang mereka perbuat dan membolehkannya
Pernyataan sayyidina Ali ibn Abi Thalib di atas sangat jelas menggugurkan pendapat kalangan yang mengatakan bahwa hal tersebut bid’ah haram dan menetapkan bahwa gerakan dalam dzikir itu boleh secara mutlak.
Dalam salah satu risalahnya, Syaikh Abdul Ghani an-Nablusi menjadikan riwayat tersebut sebagai dalil dianjurkannya bergerak-gerak saat dzikir. Sebab dengan jelas menyebutkan bahwa para sahabat Nabi bergerak-gerak di kala mereka berzikir. Karena seseorang tidak dihukum ketika dia bergerak, berdiri atau duduk dalam keadaan apa saja, asalkan dia tidak melakukan suatu tindakan maksiat.
Jika dicermati, banyak pula ibadah dalam Islam yang menggabungkan antara gerakan dan dzikir. Misal, ketika melakukan gerakan shalat, saat thawaf sambil membaca talbiyah, melempar jumrah dan lain sebagainya. Sehingga sebenarnya, para sufi pun dalam berdzikir pun bersumber dari praktik para sahabat. Sebab kaum sufi ialah kelompok yang menghidupkan sunnah nabi Saw bukan sebaliknya.
Kendati demikian tidak bisa dipungkiri ada sebagian kalangan yang menisbatkan diri dengan tasawuf. Lalu mereka menyisipkan beraneka ragam bid’ah yang sesat dan perbuatan-perbuatan munkar yang diharamkan oleh syariat. Seperti memakai alat musik dan nyanyian-nyanyian yang melampaui batas sehingga dzikir tidak lagi menjadi sarana untuk menyucikan qalbu dari kotoran-kotorannya dan untuk sambung kepada Allah, tapi menjadi sarana untuk menghibur diri yang lalai dan mencapai tujuan-tujuan yang tercela. Maka dari sini perlu dibedakan mana yang memang benar-benar sufi mana yang tidak. Baca juga…
Syekh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Mekah, menyebutkan dalam kitabnya, as Sirah an Nabawiyah, dia menyatakan, “Setelah perang Khaibar, Ja’far ibn Abi Thalib dan rombongan kaum muslimin yang berjumlah 16 orang tiba dari Habsyah. Nabi menyambut kedatangan Ja’far ibn Abi Thalib, lalu mencium keningnya dan memeluknya. Beliau juga melakukan hal yang sama kepada Shafwan ibn Umayah dan ‘Ady ibn Hatim.
Nabi berkata, “aku tidak tahu, apakah aku bergembira karena telah ditaklukkannya (fath) Khaibar atau karena kedatangan Ja’far.” Lalu beliau berkata kepada Ja’far ibn Abi Thalib, “pembawaan dan akhlakmu persis seperti pembawaan dan akhlakku”. Ja’far langsung berjoget karena saking senangnya mendapat pujian dari Nabi. Nabi tidak mencela tindakan Ja’far. Hal inilah yang dijadikan sandaran dalil oleh kalangan sufi untuk bergoyang (menari) di kala mereka memperoleh kelezatan cinta kasih Allah dalam majelis-majelis zikir.
Syekh al-Alusi dalam tafsirnya Ruhul Ma’ani, menyatakan tatkala menafsirkan firman Allah,
“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191).
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

