Bagaimana Cara Mengamalkan Dzikir di Masjid Umum?

Ketika sudah mendapatkan talqin dzikir, seyogyanya Ikhwan TQN Pontren Suryalaya mengamalkan dzikir yang sudah diajarkan sebagaimana terdapat dalam kitab Uqudul Juman.

Tetapi dalam praktiknya, sering muncul pertanyaan bagaimana cara mengamalkan dzikir di masjid yang jamaahnya belum mendapatkan talqin dzikir?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya memperhatikan kembali Maklumat No. 20.PPS.VI.1994 yang ditandatangani langsung oleh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin.

Bismillahirrahmanirrahiim. Dalam rangka meningkatkan ketertiban dalam melaksanakan pengamalan Thariqat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Maka dengan ini Abah mengharap:

  1. Dzikir jahar yang dilaksanakan secara berjamaah harus tertib, tartil/fasih, seirama dan senada, sehingga jelas terdengar hurufnya (LAA ILAAHA ILLALLAAH), jangan ada yang cepat/kencang, ada yang lambat, tidak teratur, sehingga tidak bisa mencapai konsentrasi atau khusyuk.
  2. Bila dzikir dilaksanakan sendirian, suaranya jangan keras-keras, terutama bila malam telah larut.
  3. Dzikir karena terlalu khusyuk, sampai ingin menangis, hal itu dibolehkan, dengan catatan jangan sampai mengganggu orang lain, sehingga suasana menjadi goncang, hal tersebut harus dicegah.
  4. Bilamana orang yang dzikir dapat mengganggu orang lain, maka Imam harus bertindak untuk mencegah orang itu, yaitu dengan memperingati atau merendahkan temperatur suara dzikir secara bersama.
  5. Berjamaah dzikir, baik di mesjid maupun di rumah, hendaknya cukup mengikuti hitungan 165 kali, andaikata ingin lebih banyak, hal tersebut dapat dilaksanakan secara sendirian dengan suara yang tidak terlalu keras.
  6. Bila ada yang kebetulan mendapat Inkisyaful Qalbi/terbuka hati, hal ini jangan diberitahukan kepada orang lain, tapi cukup dirasakan sendiri sehingga makin mantap.
  7. Senantiasa membaca, menghayati dan mengamalkan Tanbih.
  8. Senantiasa meningkatkan peribadatan, dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah Swt. Demikian harapan Abah semoga para ikhwan dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Baca juga…

Dalam maklumat tersebut jelas sekali disebutkan bahwa jika dzikir yang dilakukan sendirian, suaranya jangan keras-keras dan dengan catatan tidak boleh sampai mengganggu orang lain. Selanjutnya, dzikir di masjid hendaknya cukup sampai 165 kali, andaikata ingin dzikir lebih dari bilangan itu bisa dilanjutkan di rumah dengan suara yang tidak terlalu keras.

Dalam maklumat yang ditandatangani pada 25 Juni 1992 itu, pangersa Abah Anom juga berharap Ikhwan senantiasa membaca, menghayati dan mengamalkan Tanbih. Artinya dzikir yang diamalkan tidak bisa dipisahkan dengan realitas hubungan sosial antar sesama.

Dengan kalimat lain, jangan sampai dzikir atau pun amaliah TQN menjadi celah keretakan bagi hubungan yang harmonis dengan sesama. Jangan sampai juga dzikir dan amaliah TQN menjadi jurang pembeda, lubang pemisah persatuan dan kesatuan umat dan bangsa. Singkatnya, pengamalan dzikir dan pengamalan tanbih mesti selaras, seiring dan seimbang.

Jika merujuk pada Kitab Miftahus Shudur, maka paling tidak syarat-syarat ini harus dipenuhi oleh yang berdzikir.

وشرائطه : أن يكون الذاكر على وضوء تام، وأن يذكر بضرب شديد، وصوت قوي حتى تحصل أنـوار الـذكـر فـي بـواطـن الـذاكـريـن، وتصير قلوبهم أحياء بهذ الأنوارحياة أبدية أخروية

Syarat-syaratnya ialah yang berdzikir dalam keadaan wudhu yang sempurna (suci), berdzikir dengan hentakan/tekanan yang mantap dan suara yang kuat. Sehingga cahaya dzikir ada di dalam batin yang berdzikir, dan dengan cahaya itu, qalbu yang berdzikir menjadi hidup dengan kehidupan abadi yang ukhrawi. Baca juga…

Dengan syarat-syarat tersebut, berdzikir di masjid yang tidak mengamalkan dzikir TQN tetap bisa dilakukan selama dalam keadaan suci, dzikir dilakukan dengan hentakan yang mantap dan suara yang kuat ke dalam bukan kencang ke luar karena dikhawatirkan akan menganggu jamaah yang lain.

Artinya akhlak terhadap sesama jangan sampai terabaikan. Jangan asyik sendirian, di sinilah pentingnya kearifan dari yang berdzikir. Bahkan bila diperlukan ikut serta dengan amaliah dzikir warga setempat, baru kemudian mengamalkan dzikir TQN Pontren Suryalaya. Oleh karena itu sebagian Arifin berkata,

التصـوف كـلـه أخـلاق ، فمـن زاد عليـك بـالأخـلاق زاد عليـك بالتصوف

Tasawuf keseluruhannya adalah akhlak, maka barang siapa yang bertambah baik akhlaknya, maka ia semakin bertasawuf.

#talqindzikir #miftahusshudur #uquduljuman

Rekomendasi
Komentar
Loading...