Andai Pemimpin Negeri ini Melihat Allah

Ia dibimbing untuk dapat mengamalkan setiap apa yang telah dipelajarinya

Si anak muda dalam kisah di atas, sepertinya telah berada pada maqam ini. Inilah mengapa sang guru, Syaikh Junaid, begitu menyayanginya.

Usia tidak menjamin kedekatan seseorang dengan Allah. Begitu pula dengan hal-hal lain, seperti ketinggian ilmu, lama dan banyaknya ibadah, apalagi banyaknya harta atau tingginya jabatan duniawi. Jika Allah menghendaki, seorang anak muda sekalipun bisa menjadi kekasih-Nya kapan pun Dia berkehendak, selama ia mau dan berusaha mendekat kepada-Nya. Allah swt berfirman: “Jika hamba-Ku sedang bertemu dengan-Ku, Aku pun senang menemuinya. Tapi jika hamba-Ku enggan bertemu dengan-Ku, Aku pun enggan menemui-Nya.” (HR. An-Nasai).

Maka, jika setiap orang mau belajar dan mengamalkan agamanya dengan sungguh-sungguh, atas pertolongan Allah, pasti akan mencapai maqam ini: melihat dan merasakan kehadiran Allah kapan dan di mana pun. Jika ia seorang pengusaha, ia pasti menjadi pengusaha yang jujur dan memberi berkah bagi orang-orang dan lingkungannya.

Jika ia seorang pemimpin, ia pasti menjadi pemimpin jujur, yang bekerja menurut tugas dan tanggungjawabnya. Juga menjadi pemimpin adil, yang tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya saja. Juga menjadi pemimpin tegas, yang cepat-tanggap pada persoalan rakyat terutama yang terzhalimi. Juga menjadi pemimpin yang berakhlaqul karimah, yang kata, sikap dan perilakunya menjadi teladan bagi rakyat. Sebab, matanya melihat alam, qalbunya menangkap kehadiran Allah. Tubuhnya bersama manusia, ruhaninya bersama Allah.

Setiap orang adalah pemimpin. Setiap pemimpin bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Kepemimpinan atas diri sendiri, keluarga, apalagi masyarakat. []


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi