Amalkan Tanbih, Seratus Penyandang Disabilitas Ikuti Seminar dan Terima Santunan

Salah satu akhlak tanbih dalam TQN Pontren Suryalaya ialah bersikap kasih sayang, bermanis budi serta peduli menuntun dan membantu kelompok lemah. Salah satu kelompok lemah itu ialah kaum penyandang disabilitas.

Seperti yang dilakukan Yayasan Tunanetra Raudhatul Firdaus (YTRF) bersama HATAM dan LAZNAS PHR (Pertamina Hulu Rokan) yang menggelar Seminar “Sehari Bersama Rasulullah Saw & Santunan Disabilitas Netra”.

Kegiatan yang dihelat di Masjid al Mubarak (TQN Center) pada Selasa (07/12) mengangkat tema “Meneladani Kisah Hidup Hamba Pilihan, Kuatkan Iman, Optimalkan Amal”.

Kegiatan yang diadakan masih dalam momentum Hari Disabilitas Internasional tersebut dimulai sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB dan diikuti pula secara live via Zoom Meeting.

Baca juga: HATAM Gandeng LDTQN Jakarta dalam Program Cahaya Hati ANTV

Terselenggaranya acara ini juga didukung oleh berbagai lembaga di antaranya Lembaga Dakwah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (LDTQN) Jakarta, Dapur Leha Jakarta (DLJ), Dompet Dhuafa (DD), Fortuna Argatech, serta para donator.

Sekitar seratus tunanetra yang hadir, masing-masing akan memperoleh sembako senilai Rp 100.000 dan transport sebesar Rp 200.000. Selain itu, juga akan diberikan kepada mereka 50 Speaker HATAM dan 22 set al Qur’an Braille (1 set Braille terdiri dari 2 dus).

Dalam seminar sesi pertama, Dr. H. Ali Fikri Noor menyampaikan bagaimana akhlak baginda Nabi Muhammad Saw yang sangat mulia. Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darul Hikmah menilai bahwa akhlak Rasulullah Saw harus dicontoh oleh para pemimpin.

Baca juga: Sehari Bersama Hatam 30 Disabilitas Netra Berhasil Menghafal Surat al Muzzammil

“Jika hendak duduk bersama Nabi Saw, para shiddiqin, syuhada dan shalihin, maka pemimpin harus selalu dekat dengan rakyat lemah,” ujarnya

Ada lima akhlak Nabi Muhammad Saw yang dikemukakan oleh alumni International Islamic University Islamad Pakistan tersebut.

Pertama, rajin melakukan silaturahim. Kedua, bersedia memikul beban orang lain yang lemah. Ketiga, menjamu dan memuliakan para tamu. Keempat, memberi lowongan pekerjaan kepada yang membutuhkan serta meningkatkan kesejahteraan orang lain. Kelima, selalu bahu membahu dan bekerja sama memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Baca juga: Ingin Menghafal Quran Ditengah Kesibukan yang Padat Coba Aplikasi Hatam

“Seorang muslim hidupnya bukan hanya untuk kepentingan dunia. Tetapi bagaimana harta, ilmu, pangkat, dan jabatan digunakan untuk mengagungkan agama Allah dan persiapan menuju alam akhirat,” pungkasnya.

Ustadz H. Abdul Latif, SE, MA, menjadi narasumber pada sesi kedua setelah sesi shalat dzuhur dan makan siang. Founder HATAM tersebut menceritakan perjalanan dakwah Nabi Saw dari sejak fase Makkah hingga hijrah di Madinah.

Dakwah yang dilakukan Nabi dimulai melalui keteladanan diri yang kemudian dicontoh oleh para sahabatnya.

Baca juga: Kunci Sukses Tahfidz Quran Pesantren Saman Darushudur

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar. Kaum Anshar sangat menyayangi kaum muhajirin melebihi dirinya sendiri, bahkan rela berkorban untuk saling membantu selayaknya saudara,” ujar wakil Ketua LDTQN DKI Jakarta tersebut.

Usai tanya jawab dan penampilan puisi, kegiatan pun dilanjutkan dengan pembagian bingkisan kepada masing-masing peserta setelah shalat Ashar berjamaah.

Rekomendasi