Asal Muasal Gelar Shahibul Wafa

Abah Anom rela berjalan kaki 15 km demi menyampaikan amanah murid Abah Sepuh

Saat pergolakan Darul Islam (DI) di Jawa Barat yang dipimpin Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, kelahiran Cepu, yang bermukim dan memimpin awal gerakan di Malangbong, kaum Muslimin dan Ajengan pimpinan pondok pesantren seakan terbagi ke dalam 3 kelompok. Kelompok pendukung DI, kelompok penentang DI, dan kelompok yang bingung antara mengikuti atau menentang.

Pondok Pesantren Suryalaya saat itu memiliki sikap yang menentang gerakan DI, dan tetap mendukung keutuhan NKRI. Ulang kali Pondok Pesantren Suryalaya digempur oleh DI baik saat siang hari apalagi malam hari.

Meski sekeliling pesantren sudah dibuatkan pagar tinggi dari bambu melampaui tiga meter dan dijaga oleh para pemuda, namun serangan demi serangan DI semakin gencar saja. Ibu Hj. Siti Ru’yanah, istri Abah Anom pun hingga terkena peluru nyasar saat itu.

Baca juga: Abah Anom dan Kanak-kanak

Sejumlah pemuda yang berjaga pun meninggal dunia terkena rentetan tembakan. Hal ini ditandai dengan sebuah prasasti di Gapura Pontren Suryalaya.

Abah Sepuh yang kala itu sudah berusia lebih dari 100 tahun demi keamanan beliau diungsikan di Ciawi, daerah yang relatif aman dan ada penjagaan dari TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Kepemimpinan Pondok Pesantren Suryalaya dipegang oleh Abah Anom, yang saat itu usianya sekitar 30-an. Dalam keadaan genting dan “riweuh” pun, ada saja murid Abah Sepuh yang menyengajakan diri datang ke Madrasah hendak menemui Abah Sepuh.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi