Ulah Nyalahkeun Kana Pangajaran Batur
Jangan sibuk menyalahkan orang lain, fokuslah meluruskan dengan hikmah dan kasih sayang
Jangan menyalahkan ajaran orang lain, juga berarti jangan buru-buru menilai atau menghakimi sesuatu yang belum dipahami.
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. [Surat Al-Isra’: 36]
Kenyataan adanya perbedaan pendapat terkait ketentuan hukum misalnya, tidak boleh dinafikan apalagi diingkari. Pengingkaran terhadap kebenaran yang diperoleh melalui proses istinbath al ahkam atau pada masalah yang tidak termasuk masalah yang telah ditentukan hukumnya dalam dalil yang qath’iy ad dilalah dan qath’iy ats tsubut (majalul ijtihad) termasuk sikap yang menyalahi ketentuan agama. Sebagaimana diungkap Dalilah Razi dalam al ijtihad al intiqa’i fi al Fiqh al Islami,
Tidak boleh mengingkari adanya perbedaan pendapat terkait ketentuan hukum yang didapat melalui ijtihad.
Baca juga: Wejangan Pangersa Abah Anom dalam Menempuh Jalan Tarekat
Pembaca pesan secara tersirat diajak untuk terus belajar dan mengenal lebih baik ajaran agama, serta bersikap tasamuh / toleran terhadap aneka perbedaan. Tentu sikap ini bukan berarti menoleransi pandangan, pendapat atau ajaran yang jelas menyalahi ketentuan syariat.
Dalam Islam diperkenalkan dua nilai ajaran. Pertama ajaran yang langgeng dan tidak berubah (Ats Tsawabit). Ajaran ini mendasar dan bersifat universal, serta abadi, berlaku kapan dan di mana saja. Sedangkan yang kedua, ajaran yang tidak langgeng alias temporal dan lentur (Al Mutagayyirat), ia bersifat praksis dan lokal. Ada juga konsep yang dirumuskan ulama, yakni ta’abbudi dan ta’aqquli. Ta’abudi adalah ajaran yang harus diterima apa adanya tanpa dipikirkan hikmah tasyri’-nya. Sedangkan ta’aqquli merupakan ajaran yang bisa dirasionalkan dan bisa diubah sesuai perkembangan.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

