Syarat Jadi Wali Abdal Ada di Rangkaian Mutiara

Sebagai seorang muslim, salah satu ajaran yang penting ialah meyakini keberadaan wali Allah. Istilah wali Allah ini bersumber dari Al Qur’an dan sunnah. Sebagaimana dengan jelas disebutkan dalam surah Yunus ayat 62.

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُون

Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Dalam hadis qudsi Allah Swt berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya (HR. Bukhari).

Di antara para wali-wali Allah tersebut ada yang dikenal dengan istilah wali abdal. Wali Abdal menurut Syekh Abdullah bin Muhammad Shiddiq al Ghumari dalam kitab Al I’lam bi Annat Tashawwuf min Syari’atil Islam adalah nama segolongan para wali. Banyak hadis dan atsar dari para sahabat yang menjelaskan penamaan, sifat, tanda dan tempat di mana mereka berada.

Keberadaan wali ini tidak bisa diingkari begitu saja. Seandainya pun tidak terdapat hadis dan atsar yang menjelaskannya alias hanya digunakan kalangan sufi, tetap saja tidak bisa dijadikan dalil ketiadaan mereka. Baca juga…

Sebagaimana diketahui bahwa setiap kelompok ulama memiliki musthalahat (istilah-istilah) tertentu yang dipahami di kalangan mereka sendiri. Seperti fuqaha (ulama ahli fiqih), ushuliyyin (ulama ushul), ulama nahwu, ulama mantiq, dan ulama ma’ani memiliki istilah tersendiri dalam tradisi keilmuan mereka, tercantum dalam kitab mereka, jadi bagian dari ilmu mereka dan tidak satu pun yang menentang mereka.

Wali Abdal memiliki derajat yang tinggi yang tidak bisa dicapai kecuali memenuhi syarat yang dijelaskan dalam hadis dan atsar. Syekh Abdullah bin Muhammad Shiddiq al Ghumari mengatakan bahwa salah satu syarat Wali Abdal ialah mereka memaafkan orang yang menzaliminya dan berbuat baik kepada orang yang menyakitinya, juga saling meringankan atas apa yang Allah datangkan pada mereka. Baca juga…

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah bersabda:

خيار أمتي في كل قرن خمسمائة، والأبدال أربعون فلا الخمسمائة ينقصون ولا الأربعون كلما مات رجل أبدال الله من الخمسمائة مكانه وأدخل في الأربعين مكانه قالوا يا رسول الله دلنا على أعمالهم، قال: يعفون عمن ظلمهم ويحسنون من أساء إليهم ويتواسون فيما أتاهم الله

“Orang-orang terpilih dari umatku berjumlah lima ratus orang di setiap abad, dan wali abdal berjumlah empat puluh orang. Jumlah lima ratus itu tak akan pernah berkurang, demikian juga dengan jumlah empat puluh itu. Setiap ada satu orang yang meninggal dari mereka (baik yang berjumlah 500 orang atau yang 40 orang), maka Allah akan menggantikan posisinya dengan orang yang baru.” Para sahabat berkata: Tunjukkanlah amalan mereka kepada kami wahai Rasulullah! Beliau bersabda: “Mereka memaafkan orang-orang yang menzaliminya, berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadanya, serta saling meringankan apa yang telah Allah datangkan kepada mereka.” (HR. Thabrani, Abu Nuaim, Tamam dan Ibnu Asakir).

Syarat wali Abdal tersebut selaras dengan pesan Abah Anom dalam Ranggeuyam Mutiara, yakni kudu asih ka jalma nu mikangewa ka maneh (harus menyayangi orang yang membenci kepadamu). Dengan demikian rangkaian mutiara tersebut bila diamalkan bisa mengangkat derajat seseorang bahkan menjadi kekasih-Nya.

#waliabdal #rangkaianmutiara #abahanom

Rekomendasi
Komentar
Loading...