Sejarah TQN Center (TQNC)

Masjid Al-Mubarok sebagai Pusat Dakwah Tasawuf dan diberi nama TQN Center

Faktor-faktor penghambat ini pernah terjadi saat akan menyelenggarakan Manaqib di Masjid Istiqlal, panitia penyelenggara harus mengalah memundur-mundurkan tanggal pelaksanaan demi kepentingan negara. Waktu itu rencana pelaksanaan manaqib bertepatan dengan jadwal kedatangan salah seorang tamu negara yang sangat penting, sehingga jadwal yang sudah direncanakan harus di re-schedule. Karena memang Masjid Istiqlal adalah milik negara.

Hal yang sama terjadi, saat Korwil Jakarta akan menyelenggarakan Manaqib tingkat Korwil di Masjid Jakarta Islamic Center (JIC) Jakarta Utara. Jadwal yang direncanakan ternyata sudah terisi oleh komunitas lain. Karena kita tidak memiliki kuasa atas aset tersebut, akhirnya kita kembali mengalah.

Rupanya, Allah SWT memiliki skenario lain. Ketua Korwil Jakarta, saat mendengar jadwal di JIC sudah terisi oleh pihak lain, segera melangsungkan rapat jarak jauh dengan pengurus Korwil lainnya melalui fasilitas chatting BBM (Balckberry Messengger), padahal beliau sedang ada di pedalaman Sumatera Utara. Rapat jarak jauh itu memunculkan wacana memindahkan tempat acara ke TQN Center Masjid Al-Mubarok. Sekretariat Korwil diminta mengundang para pengurus perwakilan se-DKI Jakarta untuk membicarakan wacana ini.

Rapat dengan pengurus perwakilan kemudian digelar di kediaman wakil ketua Korwil, H. Muhammad Usman keesokan harinya. Peserta rapat akhirnya memutuskan untuk mewujudkan wacana relokasi ini dengan pertimbangan sebagaimana empat poin di atas. Kemudian bergulirlah rapat-rapat teknis setelah itu untuk memastikan suksesnya kegiatan manaqib.

TQN Center sebagaimana namanya adalah sebuah tempat dan bangunan yang dijadikan pusat kegiatan TQN di DKI Jakarta. Tempat dan bangunan yang dijadikan TQN Center ini adalah Masjid al Mubarok. Lokasi masjid tersebut berada dalam lingkungan perekonomian yang ramai. Di sisi-sisi jalan Balai Pustaka Baru dan jalan Waru yang merupakan akses masuk menuju TQN Center banyak berdiri toko-toko fotokopi dan warung-warung makan. Selain itu, di kawasan tersebut ada dua gereja yang ramai jemaatnya, terutama di hari minggu. Kondisi ini menjadi peluang dakwah yang sangat strategis.

KH. Nur Anom Mubarok sempat berpesan kepada KH. Wahfiudin saat baru saja beliau diangkat menjadi wakil talqin oleh Pangersa Abah Anom, “Jakarta memerlukan masjid yang akan menjadi basis TQN!”, KH. Wahfiudin berfikir sejenak dan berujar di dalam batin, “Akan membangun masjid dimana, ya? Dimana-mana harga tanah mahal”. Namun demikian, KH. Wahfiudin menjawab, “Akan saya upayakan!”. Hal ini bagi KH. Wahfiudin menjadi semacam janji.

Waktu pun berjalan, KH. Wahfiudin dan jamaah di lingkungannya sempat membuka majlis dzikir di Masjid Nurul Iman, kawasan Cipinang Bundar, Rawamangun. Namun karena bukan milik komunitas TQN ditambah ada konflik internal sesama pengurus masjid, akhirnya kegiatan dzikir dipindahkan ke Masjid al-Mubarok. Saat itu Masjid Al-Mubarok dalam proses renovasi. Kondisi renovasi masih 25%.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi