Fenomena ini membuat sedih para ahli zuhud yang sadar akan keadaan umat tersebut. Mereka akhirnya mulai membangun ilmu tasawuf. Jadi, kemunculan ilmu tasawuf bukan reaksi atas kemunculan ilmu-ilmu yang lain seperti disebut di atas. Tetapi ia muncul untuk mengokohkan kembali apa yang mulai rapuh dari kehidupan kaum muslimin, yaitu ruh agama. [1]
Ilmu tasawuf adalah buah karya para ulama terpercaya. Ia dilandasi oleh wahyu langit. Ia adalah perwujudan dari ihsan yang merupakan satu dari tiga elemen dasar agama, yaitu islam, iman dan ihsan (lihat artikel ‘Apa Itu Tasawuf?’).
Islam adalah kepatuhan dan ibadah. Iman adalah cahaya dan akidah. Sedangkan Ihsan adalah murāqabah (keintiman) dan musyāhadah (penyaksian). Sabda Nabi: “Ihsan adalah bahwa engkau mengabdikan diri kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Sekiranya engkau tidak (mampu) melihat-Nya, maka (yakinlah) Allah melihatmu.” (HR. Muslim)
Maka, siapapun yang kehilangan salah satu dari tiga pilar itu, keberagamaannya belum sempurna. Jadi, sasaran yang dibidik ilmu tasawuf adalah maqam ihsan, setelah seseorang memperbaiki islam dan imannya.
Dalam kitab Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun berkata, “Tasawuf adalah salah satu di antara ilmu-ilmu baru dalam Islam. Asal mulanya ialah amal perbuatan generasi salaf dari para sahabat, tabi’in dan orang-orang sesudah mereka. Fondasi tasawuf ialah tekun beribadah, memutus semua jalan kecuali jalan menuju Allah, berpaling dari kemegahan dan kemewahan dunia, melepaskan diri dari sesuatu yang diinginkan oleh kebanyakan manusia seperti buaian harta dan pangkat, serta mengasingkan diri dari makhluk dan berkhalwat untuk beribadah. Ini semua adalah kebiasaan yang dilakukan para sahabat dan para ulama salaf. Kemudian, pada abad kedua dan seterusnya manusia mulai jatuh dan terlena dengan kesibukan duniawi. Nama sufi pun muncul untuk menjuluki orang-orang yang tekun beribadah.” [2]
Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi mengatakan, “Ketahuilah bahwa kaum muslimin hingga sepeninggalan Rasulullah menyebut orang-orang yang paling utama di antara mereka dengan nama ‘sahabat’, tidak dengan selainnya. Sebab ketika itu tidak ada julukan yang lebih mulia selain nama ‘sahabat’. Setelah era sahabat, umat berselisih. Tingkatan ketakwaan mereka pun semakin beragam. Orang yang tekun menjalankan aturan agama disebut zahid (ahli zuhud) atau ‘abid (ahli ibadah). Kemudian muncullah berbagai bid’ah, dan setiap kelompok mengklaim bahwa di dalam kelompoknya ada orang-orang yang zuhud. Setelah itu, istilah tasawuf mulai digunakan oleh para ahli zuhud dari kalangan Ahli Sunnah, yang senantiasa memupuk hubungan dekat dengan Allah dan menjaga hati dari kelalaian. Istilah ini telah populer di kalangan mereka sebelum abad kedua hijriah.” [3]
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

