Ramadhan dan Puasa Medsos
Media sosial memang secara sengaja didesain agar memiliki pengaruh addictive atau ketagihan
Makna puasa secara kebahasaan ini kemudian dipersempit oleh hukum syariat. Yakni menahan diri dari makan, minum dan berhubungan seks dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Jadi secara bahasa, bisa saja dikatakan ada istilah puasa medsos, yakni menahan diri dari media sosial untuk menghindari dampak buruk yang ditimbulkannya. Bahkan puasa medsos ini juga senafas dengan esensi dari puasa secara syariat yakni pengendalian diri.
Puasa medos bisa dijadikan alternatif untuk mengobati penyakit manusia modern. Sebab pengguna medsos sering kali butuh pujian, mencari like, comment. Mereka cenderung narsis senang untuk diperhatikan.
Secara hakiki, puasa adalah ibadah untuk meneladani Allah yang tidak membutuhkan apapun dan siapa pun. Puasa mengajarkan kita agar berakhlak dengan akhlak Allah yang tidak bergantung pada sesuatu.
Dengan puasa, manusia belajar agar tidak butuh pada sesuatu seperti sanjungan dan pujian. Manusia melatih diri agar tidak bergantung pada sesuatu pun.
Karena semakin membutuhkan sesuatu justru manusia itu semakin miskin dan lemah. Masyarakat yang kepribadiannya terbang karena pujian akan tumbang dengan hinaan dan cacian. Masayarakat seperti itu cenderung bermental lemah, tidak punya daya tahan, bahkan tidak punya jati diri.
Justru Ramadhan ini ialah ajang untuk mengembangkan potensi rohani manusia. Meningkatkan ketergantungan yang tinggi hanya pada-Nya. Karena itu dalam hadis Qudsi Allah berfirman; “puasa untuk-Ku dan Akulah yang memberinya ganjaran (pahala)”.
Sekali lagi kearifan dan prioritas menjadi tolok ukur dalam penggunan medsos. Pandailah menghitung diri, antara manfaat dan mudharatnya. Jangan sampai Ramadhan yang merupakan hidangan istimewa jadi sia-sia karena lalai dari mengingat-Nya. []
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

