Psikologi Tanam dan Panen

Siapa menanam dia mengetam, peribahasa yang mengingatkan pentingnya melakukan tindakan menanam bila menginginkan hasil berupa panen.

Nabi Muhammad Saw menyatakan bahkan bila kita tahu besok akan kiamat, tanamlah kurma. Menanam sedemikian penting. Bahkan tanah yang sudah mengeras, mati, bisa dihidupkan dengan menanaminya tanaman. Ini yang sudah dibuktikan oleh para pejuang lingkungan di seluruh negeri. Tanah yang sudah gersang, kering kerontang, menjadi hijau dan memunculkan mata air.

Apa yang ditanam itu pula yang dituai, seperti yang disenandungkan Sinden Nunung Nurmalasari dalam pagelaran wayang golek Giri Harja 3, “melak cabe jadi cabe, melak bonteng jadi bonteng, melak hade jadi hade, melak goreng jadi goreng“.

Bagi para petani, pekerjaan menanam itu dalam kendali si petani. Sedangkan pekerjaan memanen belum tentu dalam kendali si petani.

Kegiatan memanen itu bisa dilakukan lebih awal oleh binatang yang biasa diistilahkan sebagai hama tanaman. Kegiatan memanen lebih awal sering kali dilakukan oleh orang atau sekelompok orang, yang biasa disebut sebagai maling. Wajar bila menjelang musim panen, para petani bersama-sama melakukan ronda di area tanam.

“Kang, tampaknya sudah ada yang mendahului kita panen,” kata istri saya, Khojanah Ai melaporkan hasil amatannya usai memetik pucuk daun bayam di kebun.

“Tenang saja, itu bagian dari kehidupan petani. Kita ikhlaskan saja dan ridakan agar hal yang mereka ambil halal untuk mereka. Bukankah setelah kita panen pun, hasilnya akan dibagikan ke kerabat dan tetangga,” jawab saya sambil menyiapkan peralatan untuk memanen.

Mengelola diri dalam menata emosi sangat diperlukan dalam kehidupan, demikian juga bagi petani. Kesabaran, ketekunan, keluwesan, kecerdasan, ketenangan, keriangan perlu ditumbuhkan dan dijaga. Kecemasan, ketakutan, putus asa, pundung, mutung, dan murung kerap menyergap para petani, lalu mereka kapok, tidak menanam dan tentunya tidak memanen.

Apa yang dialami petani dalam menanam dan memanen dapat dianalogikan dalam peran-peran lainnya dalam kehidupan kita. Mari kita sempatkan waktu mumpung hidup masih akrab dengan kita dengan menanam benih yang baik. Bersyukurlah bila kita mampu menanam, dan mengenai panen mari kita ikhlaskan, hibahkan, hadiahkan, sedekahkan hasilnya kepada sesama.

Oleh: Asep Haerul Gani (Psikolog)

#psikologi #petani #panen

Rekomendasi
Komentar
Loading...