Psikologi Rehat

Rehat, istirahat, jeda, senggang, deaktivasi dalam kehidupan itu penting. Bila kita telusuri neurosains, bahkan di tingkat sel saraf (neuron) pun ia perlu jeda. Sejumlah jurnal tentang fisika pun menunjukkan bahwa kelakuan atom pun sama, ia pun ada rehatnya.

Para sahabat saya di bidang seni menyatakan hal serupa. Jeda, hening, diam di dalam musik justru bagian penting dari musik.

Fisik kita punya kapasitas. Ia perlu giat dan rehat. Perlu observasi ke diri sendiri untuk tahu kegiatan yang cukup, tidak kurang, tidak pula lebih. Kurang dan lebih dalam bergiat menimbulkan distress. Baca juga…

Kurang kegiatan membuat bosan, bingung, linglung. Terlalu berlebihan kegiatan membuat badan lelah, loyo, lemas, lunglay, letoy dan lara.

Obat kurang kegiatan adalah:

  1. Refleksi ke diri, kegiatan apa saja selama ini yang dirasakan paling penting, perlu, bermanfaat dan bermakna?
  2. Rancang untuk mempersering melakukan kegiatan nomor 1
  3. Rancang melakukan kegiatan baru yang dirasakan paling penting, perlu, bermanfaat dan bermakna.

Obat terlalu banyak kegiatan adalah rehat. Menariknya, tubuh memiliki mekanisme untuk membuat rehat. Keluarnya keringat yang banyak, otot yang menegang, urat-urat yang pegal, badan terasa ngilu dan linu, suhu tubuh meningkat, antara lain alarm yang diberikan tubuh.

Sebagian manusia terjaga saat ada alarm, dan mengambil langkah yang tepat dengan segera rehat. Sebagian manusia terjaga saat ada alarm, dan lalu mengabaikannya, dan terus memaksakan diri melanjutkan kegiatan tentu dengan ragam pembenaran seperti nanggung, dikejar target, nggak ada waktu lagi. Tubuh memiliki mekanisme yang unik untuk memperoleh rehat, memberikan warning berupa sakit.

Dalam kehidupan, manusia lebih banyak diajarkan untuk giat ketimbang rehat. Wajar bila sebagian orang gagap dan gagal dalam berehat.

Rehat Fisik

Rehat fisik mungkin mudah caranya. Bang Rhoma sudah mengingatkan kita untuk santai. Anda cukup duduk, mengendurkan ketegangan urat, membiarkan peluh keluar, dan mengisi tubuh dengan nutrisi.

Rehat Pikiran

Rehat pikiran tampaknya perlu dipelajari. Banyak orang yang tubuhnya rehat namun pikirannya lelah karena tak mampu rehat. Pikiran yang lelah itu umumnya pikiran yang terdistorsi, pikiran yang membatasi, pikiran yang fokus pada hal yang di luar kendali.

Rehat Emosi

Rehat emosi pun perlu dilatih. Mereka yang lelah emosi, ternyata mengalami kelekatan dengan emosi-emosi yang tidak nyaman. Tak mudah membantu mereka untuk rehat dari emosi ini, karena mereka sudah kecanduan. Kesadaran diri diperlukan agar mereka dapat waspada , menahan diri dari godaan emosi jenis ini. Rehat emosi dapat dilakukan dengan mempersering hadirnya emosi-emosi yang menyenangkan, melepaskan beban batin, membolehkan dan mengikhlaskan peristiwa buruk terjadi di masa lalu, memaafkan, dan melanggengkan bersyukur.

Rehat Spiritual

Rehat spiritual tentu tidak mudah. Kita kadang terjebak dalam kehampaan, hidup hanya berputar di lingkaran setan, dan hidup terasa monoton dan sepi arti. Refleksi, meditasi, menyatukan diri dengan yang Maha adalah caranya. Selamat Giat, Ingat Rehat.

Oleh: Drs. Asep Haerul Gani (Psikolog)

#psikologi #spiritual #rehat

Rekomendasi
Komentar
Loading...